KONEKSI MEDIA – Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih pada awal Januari 2026. Panglima Militer Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, mengeluarkan pernyataan keras sebagai respons langsung atas gertakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Teheran menegaskan bahwa setiap upaya intervensi militer atau dukungan terhadap kerusuhan domestik akan dijawab dengan kekuatan penuh yang “tidak terbayangkan sebelumnya.”
Retorika Locked and Loaded dari Gedung Putih
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump melalui platform media sosialnya, di mana ia memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran yang turun ke jalan akibat krisis ekonomi. Trump menyatakan bahwa militer AS berada dalam posisi “locked and loaded” (terkunci dan terisi) untuk melakukan intervensi kemanusiaan jika Teheran melakukan pembantaian terhadap warga sipil.
Ancaman ini bukan sekadar gertakan kosong di mata dunia internasional. Hal ini menyusul tindakan agresif AS sebelumnya pada Juni 2025, di mana jet tempur siluman B-2 Spirit milik Amerika Serikat menggempur fasilitas nuklir strategis Iran di Natanz dan Isfahan. Serangan tersebut menghancurkan sebagian besar infrastruktur pengayaan uranium Iran dan memicu konflik singkat selama 12 hari yang melibatkan pertukaran rudal balistik.
Jawaban Tegas Panglima Amir Hatami
Berbicara di hadapan para taruna akademi militer di Teheran pada Rabu (7/1/2026), Panglima Angkatan Bersenjata Iran (Artesh), Jenderal Amir Hatami, menegaskan bahwa militer Iran saat ini jauh lebih siap dibandingkan saat konflik Juni tahun lalu.
“Republik Islam menganggap intensifikasi retorika bermusuhan ini sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan bangsa. Kami tidak akan membiarkan provokasi ini tanpa jawaban,” tegas Hatami sebagaimana dikutip dari kantor berita IRNA.
Hatami menambahkan bahwa jika musuh melakukan “kesalahan perhitungan” sedikit saja, Iran tidak ragu untuk melancarkan serangan pendahulu (preemptive strike).
“Hari ini, kesiapan angkatan bersenjata Iran berada pada level tertinggi. Jika mereka berani melangkah, kami akan memotong tangan penyerang tersebut,” tambahnya dengan nada menantang.
Konteks Krisis: Ekonomi dan Protes Dalam Negeri
Pernyataan keras militer Iran muncul di tengah situasi dalam negeri yang sangat tidak stabil. Sejak akhir Desember 2025, gelombang protes besar-besaran meletus di lebih dari 300 lokasi di 28 provinsi Iran. Rakyat turun ke jalan memprotes inflasi yang meroket dan anjloknya nilai tukar Rial yang kini menembus angka 1,4 juta per satu Dollar AS.
Pemerintah Iran menuduh Washington dan Tel Aviv berada di balik kerusuhan tersebut untuk menggulingkan rezim (regime change). Sebagai upaya meredam kemarahan warga, Teheran baru saja meluncurkan program subsidi bantuan langsung tunai sebesar 10 juta Rial (sekitar $7 USD) untuk lebih dari 71 juta penduduknya. Namun, langkah ini dianggap terlambat oleh banyak pengamat karena harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan unggas telah melonjak jauh melampaui nilai subsidi tersebut.
Geopolitik yang Kian Memanas
Dunia internasional melihat situasi ini sebagai “bola liar” yang bisa memicu perang regional. Posisi Iran semakin terpojok setelah sekutu dekat mereka di Amerika Latin, Presiden Venezuela Nicolás Maduro, ditangkap dalam sebuah penggerebekan oleh militer AS hanya beberapa hari sebelum ancaman Trump ke Iran keluar.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memperingatkan bahwa intervensi AS di Iran akan berarti “kekacauan total bagi seluruh kawasan dan kehancuran kepentingan Amerika di Timur Tengah.” Iran mengisyaratkan bahwa pangkalan-pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab berada dalam jangkauan rudal-rudal balistik mereka yang telah diperbarui.
Kekhawatiran Global
Pihak internasional mulai mengambil langkah pencegahan. Australia, misalnya, telah mengeluarkan peringatan bagi warganya untuk segera meninggalkan Iran karena risiko eskalasi militer yang mendadak. Sementara itu, di PBB, duta besar Iran Amir Saeid Iravani telah mengirimkan surat protes resmi, mendesak Dewan Keamanan untuk mengecam “ancaman melanggar hukum” yang dilontarkan oleh Donald Trump.
Meskipun Trump sempat menyatakan keinginan untuk melakukan kesepakatan baru terkait nuklir tanpa perantara, retorika militer yang agresif menunjukkan bahwa Washington lebih condong menggunakan tekanan maksimum (maximum pressure) untuk memaksa Teheran bertekuk lutut.
Dengan Panglima Militer Iran yang kini secara terbuka menyatakan siap perang, mata dunia tertuju pada Selat Hormuz. Jika salah satu pihak menarik pelatuk, tahun 2026 bisa menjadi saksi pecahnya konflik berskala besar yang akan mengubah peta geopolitik dunia secara permanen.

