KONEKSI MEDIA – Wilayah Sulawesi Utara kembali diguncang oleh gempa bumi kuat berkekuatan Magnitudo 7,1 yang terjadi sekitar pukul 21.58 WIB, dengan pusat gempa berada di perairan dekat Melonguane, Kepulauan Talaud. Gempa ini termasuk gempa dangkal pada kedalaman sekitar 31 kilometer dan terasa di berbagai kota besar di kawasan utara Indonesia.
Lokasi & Parameter Gempa
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut sekitar 40–52 km tenggara Melonguane, Sulawesi Utara, dengan koordinat sekitar 3,76° LU dan 126,95° BT. BMKG menyatakan gempa awalnya dilaporkan berkekuatan M7,1, namun setelah pemutakhiran data menjadi Magnitudo 6,4 berdasarkan analisis lanjutan. Meski begitu, banyak media masih melaporkan angka awal M7,1 karena itulah parameter pertama yang diumumkan publik.
Kedalaman & Karakter Gempa
Gempa dikategorikan sebagai gempa dangkal karena terjadi pada kedalaman kurang dari 70 km (±31 km), yang menjelaskan kenapa getarannya terasa kuat di permukaan. BMKG menyebut gempa tersebut disebabkan oleh aktivitas tektonik di zona deformasi batuan Lempeng Maluku yang kompleks, dengan mekanisme pergerakan bumi berupa oblique normal fault atau gerakan mendatar turun.
Wilayah yang Merasakan Guncangan
Guncangan gempa dirasakan oleh masyarakat bukan hanya di Kepulauan Talaud, tetapi juga di beberapa wilayah luas di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Intensitas getaran yang dilaporkan BMKG berdasarkan Modified Mercalli Intensity (MMI) mencakup:
- Kepulauan Talaud: Intensitas IV–V MMI guncangan kuat yang dirasakan jelas oleh banyak orang, termasuk bangun dari tidur, barang pecah, dan benda besar bergoyang.
- Tobelo & Sitaro: Intensitas III–IV MMI terasa mengguncang tetapi umumnya tidak menyebabkan kerusakan berat.
- Morotai: Intensitas III MMI guncangan nyata di dalam rumah.
- Ternate, Minahasa Utara, Bitung, Manado: Intensitas II–III MMI getaran terasa nyata dalam rumah, seperti truk lewat.
Tidak ada laporan luas kerusakan besar atau korban jiwa yang terkonfirmasi hingga berita ini ditulis. BMKG terus memantau situasi serta kemungkinan gempa susulan (aftershocks) yang sering terjadi setelah gempa besar.
Potensi Tsunami BMKG Tegaskan Tidak Ada
Satu pertanyaan besar publik adalah potensi tsunami setelah gempa sebesar ini. BMKG melalui pengumuman resminya menyatakan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, berdasarkan parameter sumber gempa, mekanisme patahan, dan pemodelan tsunami yang mereka lakukan. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat diimbau agar hanya mempercayai kanal komunikasi resmi BMKG seperti situs, media sosial BMKG @infoBMKG, aplikasi resmi InaTEWS, Telegram, dan kanal komunikasi terverifikasi lainnya.
Catatan: Pernyataan BMKG tentang tidak adanya potensi tsunami penting karena masyarakat sering mengaitkan gempa kuat dengan ancaman gelombang tsunami. Namun tidak semua gempa kuat menghasilkan tsunami terutama jika pusat gempa tidak mengubah permukaan laut secara signifikan.
Imbauan & Respons Otoritas
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak panik, dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Otoritas juga meminta agar masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi kebenarannya, terutama dari media sosial yang tidak resmi.
Pihak pemerintah daerah dan lembaga tanggap bencana juga terus berkoordinasi untuk monitoring situasi pascagempa, serta menyiapkan jalur komunikasi darurat bila diperlukan.
Sejarah Gempa di Sulawesi Utara
Wilayah Sulawesi Utara berada di zona subduksi dan perbatasan lempeng aktif, sehingga sejarah gempa besar bukanlah hal baru. Pada masa lalu, beberapa kejadian gempa besar telah terjadi di luar Talaud maupun daerah sekitarnya, dan memiliki rekam jejak perubahan tektonik yang tinggi. Kondisi inilah yang membuat wilayah tersebut rawan gempa.
