Dunia di Ambang Perang Dunia III, Refleksi Dialog Einstein–Freud

Dunia di Ambang Perang Dunia III, Refleksi Dialog Einstein–Freud

KONEKSI MEDIA – Para ilmuwan global kembali mengangkat alarm bahwa dunia semakin berada di ambang konflik besar yang banyak pihak sebut sebagai Perang Dunia III. Kondisi geopolitik yang tegang, meningkatnya persaingan antara kekuatan besar, serta risiko senjata nuklir dan teknologi baru membuat situasi internasional sangat rapuh. Sementara itu, refleksi historis terhadap dialog antara dua pemikir besar abad ke-20 Albert Einstein dan Sigmund Freud memberikan wawasan penting tentang akar konflik dan kemungkinan solusi perdamaian.

Kondisi Global 2026: Doorstep Perang Dunia III

Para ahli keselamatan global di Bulletin of the Atomic Scientists memindahkan simbol Doomsday Clock pada 27 Januari 2026 menjadi 85 detik sebelum tengah malam titik terdekat dalam sejarah sejak penciptaan jam tersebut pada 1947. Penyesuaian ini mencerminkan meningkatnya ancaman perang nuklir, konflik berskala besar, dan munculnya teknologi berbahaya seperti kecerdasan buatan yang tak diatur yang bersama-sama meningkatkan risiko kehancuran global.

Menurut pernyataan organisasi tersebut, negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China terlibat dalam ketegangan tinggi, sementara perjanjian pengendalian senjata utama semakin rapuh dan risiko proliferasi nuklir kembali meningkat.

Dalam konflik nyata yang pernah disebut “close calls” terhadap Perang Dunia III, perseteruan Iran–Israel pada 2025 menunjukkan bagaimana konflik regional bisa dengan cepat memicu eskalasi global. Serangan balasan Iran setelah serangan Israel terhadap instalasi militer dan nuklir menimbulkan kekhawatiran besar bahwa konflik lokal bisa menyeret negara lain atau bahkan blok kekuatan besar.

Selain itu, ancaman nuklir dan konflik bersenjata lainnya masih berlanjut di berbagai front konflik yang sudah lama berjalan seperti Ukraina, Timur Tengah, dan ketegangan di Asia Timur. Situasi ini dipadukan dengan munculnya proliferasi senjata baru, disinformasi, serta krisis diplomatik, semakin memperburuk keamanan internasional.

Kembali ke Masa Lalu: Einstein dan Freud Tentang Perang

Di tengah kekhawatiran global tentang kemungkinan Perang Dunia III, publik kini kembali menengok kembali suatu karya klasik intelektual: brief correspondence antara Albert Einstein dan Sigmund Freud yang diterbitkan tahun 1933 berjudul Warum Krieg? (Mengapa Perang?).

Dokumen ini bukan dialog fiktif melainkan korespondensi nyata yang difasilitasi oleh Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB) pada saat ketegangan politik di Eropa sedang meningkat tajam menjelang kebangkitan Nazi di Jerman. Einstein, sebagai fisikawan dan aktivis perdamaian, memilih Freud sebagai partner dialog untuk menggali penyebab perang dan kemungkinan mencegahnya.

Newton vs Psikoanalisis: Perspektif Einstein

Einstein menekankan bahwa perang bukan sekadar hasil dari psikologi individu, melainkan juga dari struktur politik dan sosial yang kompleks. Dalam pandangan Einstein:

  • Ketidaksetaraan, nasionalisme ekstrem, dan persaingan kekuatan adalah katalis utama konflik besar.
  • Perang adalah fenomena sistemik yang membutuhkan solusi sistemik melalui diplomasi, kontrol senjata, dan kerja sama internasional.
  • Risiko perang hanya bisa diminimalkan jika kekuatan besar setuju untuk mengutamakan dialog ketimbang konfrontasi.

Meskipun Einstein tak berbicara secara langsung tentang Perang Dunia III (yang merupakan istilah baru di abad 21), ide-idenya tentang perlunya kontrol senjata dan kerja sama internasional menjadi sangat relevan saat ini.

Freud dan Psikologi Perang

Freud, dengan lensa psikologi, melihat perang dari dimensi lebih dalam:

  • Freud menghubungkan perang dengan agresi dasar dalam psikologi manusia.
  • Ia menyatakan bahwa kompetisi naluriah, dominasi, dan konflik intra-psikis dapat terprojeksi ke arena politik.
  • Menurut Freud, tanpa adanya pengendalian terhadap naluri destruktif manusia, perang akan terus berulang meskipun ada lembaga internasional.

Freud tidak pesimistis tentang kemungkinan perdamaian; namun ia skeptis tentang kemampuan manusia untuk sepenuhnya mengatasi dorongan agresifnya tanpa struktur sosial dan pendidikan moral yang kuat.

Mengapa Referensi Einstein–Freud Sekarang Penting?

Dialog Einstein–Freud sangat relevan di tengah situasi dunia saat ini karena dua alasan utama:

  1. Fundamental vs Permukaan Konflik Einstein menyoroti struktur politik dan kekuasaan yang menciptakan dan memperbesar konflik, sementara Freud melihat akar konflik pada sifat psikologis manusia sendiri. Pendekatan dua tingkat ini sangat penting untuk memahami konflik modern yang kompleks.
  2. Perang Tidak Hanya Fisik Perang masa kini bukan hanya perang konvensional di medan tempur, tetapi juga perang ekonomi, teknologi, dan informasi. Pemahaman Freud tentang dinamika psikologis agresi membantu menjelaskan mengapa konflik tetap terjadi meskipun dunia modern menyediakan banyak mekanisme untuk mencegahnya.