KONEKSI MEDIA – Pemerintahan Amerika Serikat (AS) kembali melontarkan peringatan keras kepada Ukraina bahwa negaranya berada di titik krisis dalam perang melawan Rusia bahwa tanpa kesepakatan damai segera, kekalahan Ukraina bisa datang dalam waktu dekat. Peringatan ini datang dari pejabat tinggi militer AS, dan disampaikan dalam konteks upaya diplomatik intensif serta negosiasi perdamaian.
Realitas di Medan Perang Memburuk
Dalam kunjungannya ke Kyiv pada akhir November 2025, Daniel Driscoll Sekretaris Angkatan Darat AS menyampaikan kepada pejabat Ukraina bahwa pasukan Ukraina menghadapi “kekalahan yang akan segera terjadi” jika perang terus berlanjut.
Lebih lanjut, Driscoll memperingatkan bahwa kemampuan militer Ukraina makin tertekan. Rusia, menurutnya, telah meningkatkan skala dan intensitas serangan udara, dan memiliki kapasitas untuk “berperang selamanya.” Sementara itu, industri pertahanan AS juga dianggap tidak mampu memasok sistem senjata dan pertahanan udara dalam kecepatan maupun jumlah yang dibutuhkan Ukraina agar bisa mempertahankan diri secara memadai.
Peringatan ini bukan sekadar retorika “pesan intinya adalah: kalian sedang kalah, dan kalian perlu menerima kesepakatan sekarang,” demikian lapor media yang mengutip sumber anonim dari pertemuan.
Tekanan agar Ukraina Relakan Wilayah
Seiring dengan peringatan keras, AS membawa ke meja perundingan sebuah rencana perdamaian, yaitu rancangan 28‑poin yang diusulkan sebagai cara untuk mengakhiri perang. Rencana tersebut meminta Ukraina untuk melepaskan kontrol atas sebagian wilayah di Donbass yang saat ini berada di bawah kekuasaannya, membekukan garis depan di wilayah Kherson dan Zaporizhzhia, serta membatasi ukuran angkatan bersenjata Ukraina.
Kondisi ini menunjukkan bahwa AS menilai bahwa kelanjutan konflik dengan intensitas serangan Rusia yang meningkat berpotensi membawa Ukraina ke situasi yang jauh lebih mengerikan, sehingga menganggap perdamaian sekarang sebagai “peluang terakhir” untuk meminimalkan kerugian lebih besar.
Reaksi Ukraina dan Kekhawatiran Aliansi Eropa
Meski mendapat tekanan berat dari AS, banyak pejabat Ukraina dan negara-negara sekutu di Eropa menyampaikan keraguan terhadap proposal perdamaian tersebut. Mereka menilai bahwa melepaskan wilayah, membekukan garis depan, dan membatasi angkatan bersenjata menandakan bentuk “kapitulasi politik” dan bisa memberi Rusia kemenangan de facto tanpa kekalahan militer yang jelas.
Beberapa pemimpin Eropa memperingatkan bahwa kesepakatan seperti itu bisa melemahkan kedaulatan Ukraina dan melemahkan postur defendanya untuk jangka panjang. Mereka juga menekankan bahwa gencatan senjata yang berjalan dengan Rusia hanya bermakna jika disertai jaminan keamanan nyata dan pemulihan integritas teritorial Ukraina. Hal ini menggarisbawahi dilema besar yang dihadapi Kyiv: antara keselamatan jangka pendek melalui perjanjian damai, atau mempertahankan hak wilayah dan kedaulatan dengan risiko kehancuran militer.
Faktor-Faktor Membuat Peringatan AS Semakin Mendesak
Mengapa AS merasa perlu mengeluarkan peringatan keras seperti ini sekarang? Ada beberapa faktor yang menjadi latar:
- Ketidakseimbangan Kekuatan di Medan Perang
Rusia terus meningkatkan kapasitas militernya khususnya dalam serangan udara dan kemampuan logistik jangka panjang sementara suplai senjata dan sistem pertahanan Ukraina mulai lambat, karena keterbatasan produksi dan logistik global.
Melemahnya Posisi Ukraina dalam Negosiasi
Seiring kerugian di medan pertempuran, posisi tawar Ukraina dalam perundingan merosot. AS dan Rusia mencoba menawarkan rencana damai di mana Rusia mendapat konsesi besar termasuk pengakuan kontrol atas wilayah yang telah direbut yang sebelumnya ditolak keras oleh Ukraina. - Tekanan Diplomatik Global
Banyak negara Eropa menuntut penyelesaian cepat untuk perang akibat dampak ekonomi dan keamanan yang meluas. AS, yang mungkin ingin mengurangi keterlibatan langsung atau beban militer, terlihat semakin mendorong solusi diplomatik bahkan jika solusi itu kontroversial. - Kepentingan Strategis AS terhadap Stabilitas
Konflik yang berkepanjangan bisa memperburuk krisis ekonomi dan pengungsi, serta memicu instabilitas regional. Dengan mendorong perdamaian, AS tampaknya berharap menstabilkan Eropa sementara meminimalkan beban jangka panjang bagi sekutu dan diri sendiri.
Resiko Bagaimana Masa Depan Ukraina?
Bagi banyak pengamat di Kyiv dan Eropa Timur, menerima rencana perdamaian seperti yang dicanangkan AS berarti menyerahkan hak dan kedaulatan demi mendapatkan gencatan senjata. Kritik utama: apakah gencatan itu benar-benar akan bertahan, atau hanya memberi Rusia waktu untuk memperkuat penguasaan dan memperkuat posisinya untuk masa depan?
Para pendukung Ukraina memperingatkan bahwa pengurangan militer dan pembekuan garis depan bisa membuat Ukraina rentan terhadap serangan berikutnya, tanpa harapan pemulihan wilayah secara militer maupun diplomatik.
Sisi lain berargumen bahwa terus memperjuangkan kedaulatan tanpa dukungan memadai sama saja dengan membiarkan negara luluh lantak dengan korban sipil, infrastruktur hancur, dan potensi kehancuran jangka panjang.

