Kampus Eropa Putus Kolaborasi dengan Israel Akibat Perang Gaza

Kampus Eropa Putus Kolaborasi dengan Israel Akibat Perang Gaza

KONEKSI MEDIA – Kesepakatan dan kemitraan akademik antara kampus‑kampus Eropa dengan universitas di Israel kini menghadapi tekanan besar. Sejak konflik di Gaza makin memanas dan setelah muncul tudingan pelanggaran hak asasi manusia serta tindakan militer sejumlah institusi pendidikan tinggi di Eropa memutuskan untuk menghentikan, menangguhkan, atau membekukan kolaborasi penelitian, pertukaran mahasiswa, dan proyek bersama dengan rekan‑rekan dari Israel.

Menurut sebuah laporan terbaru, gerakan boikot akademik terhadap Israel kini telah meningkat drastis, bahkan meski kondisi perang berubah menunjukkan bahwa keputusan ini tidak semata respons jangka pendek terhadap konflik, tetapi bagian dari perubahan sikap institusional yang lebih mendasar.

Kampus‑Kampus yang Memutus Kolaborasi

Beberapa universitas Eropa telah mengambil langkah tegas. Berikut sejumlah contohnya:

  • Erasmus University Rotterdam (Belanda) mengumumkan penghentian semua kerja sama dengan tiga universitas di Israel: Bar-Ilan University, Hebrew University of Jerusalem, dan University of Haifa. Semua proyek riset bersama dibekukan, dan tidak ada kolaborasi baru yang akan dijalin.
  • Tilburg University juga memutus kerja sama dengan dua universitas di Israel per tahun 2025, sebagai bagian dari upaya meninjau “kolaborasi sensitif” atas dasar etika dan tanggung jawab moral.
  • Di Irlandia, Trinity College Dublin memilih untuk memotong semua hubungan institusional dengan universitas dan perusahaan asal Israel termasuk menghentikan program pertukaran mahasiswa Erasmus+, proyek riset bersama, dan investasi.
  • Di Belgia dan Flander, sejumlah universitas melalui keputusan kolektif dalam dewan antar‑universitas menyatakan tidak akan menjalin kolaborasi baru dengan institusi Israel, dan kolaborasi lama akan dievaluasi berdasarkan standar hak asasi manusia.

Langkah‑langkah ini bukan hanya respons ad hoc terhadap aksi protes mahasiswa, melainkan keputusan institusional yang dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan kemanusiaan kampus.

Alasan di Balik Boikot Etika, Hak Asasi, dan Tekanan Publik

Mengapa begitu banyak kampus Eropa memutuskan hubungan akademik dengan Israel? Beberapa alasan utama:

  • Banyak kampus menganggap bahwa bekerja sama dengan institusi yang dianggap terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia terutama di wilayah konflik seperti Gaza bisa membuat kampus terlibat secara tak langsung dalam tindakan yang dikutuk secara internasional.
  • Tekanan dari mahasiswa, dosen, dan komunitas akademik telah sangat tinggi. Demonstrasi, protes, dan kampanye solidaritas untuk masyarakat Palestina telah memaksa banyak universitas mengevaluasi ulang kemitraan mereka.
  • Bagi sebagian institusi, kolaborasi akademik bukan hanya soal ilmiah semata tapi juga soal tanggung jawab etis. Bila ada potensi keterlibatan dengan militer atau entitas yang melakukan pelanggaran HAM, maka universitas memilih menolak.

Menurut laporan analisis, boikot akademik ini meningkat bahkan setelah gencatan senjata artinya keputusan ini dianggap sebagai aksi jangka panjang, bukan reaksi sesaat terhadap krisis.

Proyek Riset Terhenti, Sahabat Ilmiah Terputus

Akibat boikot dan peniadaan kerja sama, dampaknya cukup besar:

  • Banyak proyek riset internasional termasuk konsorsium penelitian antarnegara dibekukan. Hal ini menyebabkan peneliti dari Israel dikeluarkan atau tidak lagi diikutsertakan dalam pengajuan dana riset bersama.
  • Program pertukaran mahasiswa atau fellowship bersama dihentikan atau ditangguhkan. Ini mempersempit ruang kolaborasi akademik lintas bangsa dan menghambat mobilitas mahasiswa/peneliti.
  • Banyak akademisi Eropa yang secara individu menolak kolaborasi dengan rekan dari Israel baik dalam penelitian, publikasi ilmiah, maupun konferensi internasional sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina dan dukungan terhadap hak asasi manusia.

Perubahan ini menunjukkan bahwa konsekuensi perang Gaza bukan hanya kemanusiaan dan politik, tapi juga akademik dan ilmiah mempengaruhi peta riset global, jaringan kolaborasi, serta dinamika keilmuan internasional.

Eropa Mengutamakan Etika Akademik

Menurut laporan dari lembaga pemantau boikot akademik, tren penolakan kolaborasi dengan institusi Israel semakin meluas di Eropa. Banyak kampus kini sudah menetapkan kebijakan formal bukan sekadar respons terhadap protes untuk menghentikan kerjasama dengan universitas Israel.

Hal ini menunjukkan perubahan mendasar: dunia akademik Eropa sedang merefleksikan ulang nilai-nilai kolaborasi internasional bahwa kebebasan akademik dan kebebasan riset juga harus diimbangi dengan tanggung jawab etis terhadap HAM dan keadilan global.

Beberapa pengelola universitas menyatakan bahwa keputusan mereka bukan serangan terhadap ilmu pengetahuan melainkan “penolakan terhadap keterlibatan institusi pendidikan dalam pelanggaran HAM dan konflik bersenjata.”