Bencana Alam Taput 9 Tewas, 27 Warga Masih Hilang Akibat Banjir dan Longsor

Bencana Alam Taput: 9 Tewas, 27 Warga Masih Hilang Akibat Banjir dan Longsor

KONEKSI MEDIA – Pekan ini, bencana alam dahsyat melanda wilayah Taput, Sumatera Utara. Hujan deras memicu banjir dan longsor yang menggulung beberapa kecamatan, menyebabkan jalan terputus, rumah tertimbun, dan ribuan jiwa terdampak. Data terkini menunjukkan 9 orang telah ditemukan meninggal dunia, sementara 27 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan menjadi target pencarian petugas.

Menurut keterangan dari Polres Tapanuli Utara melalui Kasi Humas, Aiptu Walpon Baringbing dari 9 korban jiwa tersebut, 7 warga berasal dari Kecamatan Adiankoting dan 2 orang dari Kecamatan Parmonangan.

Sementara itu, korban hilang tersebar di kedua kecamatan itu: sebanyak 17 orang di Adiankoting dan 10 orang di Parmonangan. Upaya pencarian pun terus dikerahkan.

Jalur Terisolasi, Hambatan Pencarian & Evakuasi

Bencana ini tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memutus akses jalur transportasi penting. Longsoran perbukitan dan banjir menutup banyak ruas jalan, terutama jalur lintas antara Tarutung–Sibolga/Tapteng yang melintasi kecamatan terdampak.

Akibat tertutupnya akses, tim evakuasi dan penyelamatan menghadapi kendala besar. Untuk menjangkau lokasi terisolasi, mereka harus membersihkan material longsoran baik secara manual maupun menggunakan alat berat agar bisa masuk dan melakukan pencarian korban hilang.

Pihak yang terlibat dalam operasi ini sangat banyak: selain Polres Taput, ikut serta pasukan dari Brimob, Ditsabhara Polda Sumut, Kodam I/Bukit Barisan, Kodim 0210/TU, serta tim dari BPBD Tapanuli Utara dan Basarnas.

Meski demikian, operasi penyelamatan tetap berjalan walau lambat karena medan sulit, jalan tertutup longsor, dan infrastruktur sebagian besar lumpuh.

Skala Bencana: Bagian dari Gelombang Hidrometeorologi di Sumut

Tragedi di Taput terjadi di tengah gelombang bencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir. Menurut data dari BPBD Sumatera Utara, total korban dari berbagai peristiwa termasuk banjir, longsor, dan puting beliung sudah mencapai 123 korban, dengan 47 orang meninggal dunia.

Artinya, musibah di Taput hanyalah satu dari sekian banyak kejadian bencana alam yang menimpa berbagai kabupaten/kota di Sumut. Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya wilayah tersebut terhadap cuaca ekstrem dan peristiwa alam di musim penghujan.

Dampak Sosial & Kondisi Warga

Banjir dan longsor di Taput tidak hanya menyebabkan kematian dan hilangnya orang, tetapi juga memutus akses vital seperti jalur transportasi, suplai logistik, dan komunikasi. Banyak desa kini terisolasi, dan warga yang selamat kesulitan mendapat bantuan.

Bagi keluarga korban hilang, ini adalah masa penuh kecemasan dan ketidakpastian. Sementara tim penyelamat bekerja keras menembus medan berat, ketegangan antara harapan ditemukan selamat dan menerima kenyataan pahit menghantui masyarakat.

Pemerintah daerah bersama aparat penanggulangan bencana telah mendirikan posko darurat dan melibatkan banyak institusi tetapi upaya ini belum tentu cukup tanpa dukungan tambahan, terutama dari masyarakat luas maupun instansi nasional.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Kendala Teknis dan Akses

Salah satu kendala terbesar adalah terputusnya jalur transportasi dan longsoran yang menutup badan jalan. Tanpa akses, proses evakuasi dan pencarian akan semakin lama dengan akibat korban hilang bisa makin sulit ditemukan. Tim gabungan sudah bekerja sejak Kamis sore (27 November 2025), namun medan yang berat dan titik longsor banyak membuat pekerjaan sulit. 

Pentingnya Koordinasi dan Sumber Daya

Keberadaan banyak institusi dari polisi, militer, BPBD, hingga Basarnas menunjukkan bahwa pihak berwenang menyikapi serius bencana ini. Tapi untuk efektivitas penyelamatan, dibutuhkan koordinasi yang rapih, peralatan berat, dan akses logistik yang memadai. Ini termasuk membuka kembali jalan utama, membawa alat berat untuk bersihkan longsoran, serta memetakan titik-titik rawan baru.

Perhatian Publik & Solidaritias

Korban letak bencana seperti Taput seringkali membutuhkan dukungan dari luar baik dalam bentuk bantuan medis, makanan, tenda pengungsian, maupun tenaga relawan. Solidaritas nasional sangat penting di saat-saat seperti ini.

Pemulihan dan Pencegahan Jangka Panjang

Setelah masa tanggap darurat, perlu direncanakan langkah pemulihan: membangun kembali infrastruktur, memulihkan mata pencaharian warga, hingga memperkuat mitigasi bencana seperti penanaman pohon, peringatan dini longsor, dan tata ruang yang memperhatikan risiko alam.