KONEKSI MEDIA – Kuasa hukum diplomat muda yang tewas di Indekos, Arya Daru Pangayunan, menghadiri audiensi bersama Polda Metro Jaya. Dalam audiensi tersebut, pengacara menyampaikan sejumlah fakta terbaru. “Audiensi kami dengan penyidik, kami banyak memberikan masukan dan informasi, dan kami mendapatkan juga informasi yang dikatakan privacy. Ternyata informasi yang dikatakan privacy itu tidak yang seheboh yang diperkirakan oleh masyarakat,” ujar Nicholay kepada wartawan.
“Jadi, informasi itu disampaikan oleh tiga orang bahwa almarhum pernah check-in dan sebagainya. Tapi tidak diketahui pasti check-in ini untuk apa? Untuk siapa?” kata Nicholay.
Menurut keterangan penyidik yang disampaikan kepada kuasa hukum, data tentang aktivitas hotel ini diperoleh dari tiga sumber saksi: resepsionis hotel, petugas keamanan hotel, dan layanan penyedia pemesanan hotel daring.
Namun pengacara menggarisbawahi bahwa sampai saat ini belum ada penjelasan publik yang meyakinkan: “check‑in untuk apa? untuk siapa?” artinya, motif dan konteks check‑in tersebut belum dipastikan.
Respons Keluarga & Desakan Penyidikan
Menanggapi temuan tersebut, keluarga dan kuasa hukum menuntut agar penyidik memperdalam pemeriksaan terhadap Vara. Selain itu, mereka juga meminta agar seorang kolega lain, bernama Dion yang disebut sebagai orang terakhir yang terlihat bersama Arya sebelum kematiannya ikut diperiksa.
Kuasa hukum menyatakan bahwa meskipun objek informasi ini dianggap “privasi,” pihak keluarga bersedia membuka aspek tersebut demi mendapatkan kejelasan. Namun mereka menuntut agar penyidik menunjukkan bukti konkret seperti rekaman CCTV, data pemesanan hotel, atau saksi yang mengklarifikasi apa sebenarnya yang terjadi dalam setiap check‑in.
Lebih jauh, keluarga mendesak agar status penanganan kasus kematian diplomat ini dinaikkan dari penyelidikan menjadi penyidikan penuh, agar seluruh fakta, termasuk aktivitas pribadi almarhum, dapat diselidiki secara menyeluruh.
Kenapa Riwayat “Check‑In” Ini Mendadak Jadi Sorotan Publik
Kasus kematian Arya Daru ditemukan di kamar kosnya di kawasan Menteng pada 8 Juli 2025 dalam kondisi mengenaskan telah memancing perhatian publik luas. Sebelumnya, penyelidikan awal sempat menyimpulkan kematian sebagai akibat bunuh diri, tetapi banyak pihak mempertanyakan hasil itu terutama setelah ditemukan fakta bahwa jenazah terlilit lakban, dan ada sidik jari misterius di lakban tersebut.
Dengan tersibaknya fakta bahwa Arya punya banyak check‑in hotel bersama seorang rekan kerja wanita, muncul lebih banyak pertanyaan: apakah ini bagian dari hubungan personal? Apakah ada motif tersembunyi? Dan, yang paling penting, apakah ada kaitan antara aktivitas ini dengan kematian misteriusnya? Karena itu, kuasa hukum menekankan bahwa meskipun mereka mempertimbangkan aspek privasi, bila informasi ini relevan dengan penyidikan maka harus didalami secara transparan.
Pertanyaan Besar: Bukti Mana yang Bisa Menguatkan
Hingga kini, pihak penyidik belum secara terbuka membeberkan bukti konkret yang menguatkan bahwa semua check‑in itu memang milik Arya dan Vara misalnya record pemesanan resmi, rekaman CCTV kamar hotel, atau saksi yang bisa menjelaskan aktivitas mereka di dalam hotel. Kuasa hukum pun mempertanyakan apakah “check‑in” otomatis berarti ada hubungan romantis atau seksual, karena belum ada bukti tindak asusila ataupun indikasi bahwa check‑in itu berhubungan langsung dengan kematian.
Dengan kata lain: sampai bukti tambahan muncul, riwayat check‑in tetap menjadi fakta “mentah” valid sebagai data penyidikan, tetapi belum bisa disimpulkan sebagai petunjuk penyebab atau motif kematian.
Mengapa Keluarga Mendesak Perubahan Status Kasus
Tak puas dengan hasil awal penyelidikan, keluarga diplomat menilai bahwa rangkaian fakta baru ini cukup signifikan untuk menaikkan status kasus ke penyidikan. Mereka bahkan siap menghadirkan saksi ahli guna mendukung proses hukum. Selain itu, mereka berharap agar seluruh data mulai dari jejak digital, CCTV, hingga saksi dibuka penuh supaya publik dan keluarga bisa mengetahui kebenaran secara transparan.
Kuasa hukum menegaskan, “privacy” tidak bisa selalu menjadi alasan untuk menutup informasi bila itu berkaitan dengan kematian seseorang yang masih misterius terutama jika data itu datang dari hotel, dan melibatkan saksi resmi.

