KONEKSI MEDIA – Ketegangan geopolitik di Asia Timur kembali memanas setelah pemerintah China mengeluarkan peringatan keras kepada Jepang terkait isu Taiwan. Dalam konferensi pers terbaru, juru bicara Kementerian Pertahanan China, Jiang Bin, menegaskan bahwa Jepang akan “membayar harga yang menyakitkan” jika berani mengambil langkah yang dianggap Beijing melewati garis merah, terutama dalam bentuk dukungan atau intervensi militer terhadap Taiwan.
Pernyataan ini merupakan respon langsung terhadap rencana Jepang menempatkan sistem rudal permukaan-ke-udara jarak menengah di Pulau Yonaguni, wilayah paling dekat dengan Taiwan. Yonaguni hanya berjarak sekitar 110 kilometer dari pantai timur Taiwan, menjadikannya lokasi strategis bagi Jepang untuk memperkuat pertahanan sekaligus memonitor aktivitas militer China.
Menteri Pertahanan Jepang sebelumnya menyatakan bahwa penempatan rudal di Yonaguni bertujuan murni untuk mengurangi risiko serangan dan memperkuat pengamanan wilayah nasional, bukan untuk memprovokasi China. Namun, langkah ini tetap dipandang Beijing sebagai bagian dari upaya intervensi dalam urusan internal China khususnya, klaim mereka atas Taiwan.
Jepang Mengancam Stabilitas Regional
Menurut Beijing, pernyataan-pernyataan terbaru dari para pejabat Jepang termasuk Perdana Menteri Sanae Takaichi telah memperburuk hubungan kedua negara. Jepang sebelumnya menyinggung kemungkinan keterlibatan militer jika terjadi konflik di Taiwan, dengan alasan bahwa setiap eskalasi akan berdampak langsung terhadap keamanan nasional Jepang.
China menilai sikap itu sebagai “pelanggaran garis merah” dan “pengkhianatan terhadap konsensus sejarah” yang selama puluhan tahun membatasi Jepang dari peran militer yang agresif pasca Perang Dunia II. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China bahkan mempertanyakan konsistensi Jepang dalam kebijakan luar negerinya, menyatakan bahwa Tokyo tampaknya ingin menutupi ambisi militernya dengan dalih mempertahankan stabilitas regional.
Pernyataan China itu juga memasukkan kritik terhadap apa yang mereka anggap sebagai “kecenderungan Jepang mengulangi sejarah kelamnya”. Beijing menegaskan bahwa Jepang seharusnya menahan diri dan tidak memperburuk sensitivitas kawasan dengan mengambil langkah-langkah yang dianggap provokatif.
Jepang Bertahan pada Sikapnya
Meskipun peringatan keras telah dilayangkan, pemerintah Jepang tetap menyatakan bahwa kebijakan mereka mengenai Taiwan tidak berubah. Tokyo berkukuh bahwa langkah-langkah militer yang diambil bersifat defensif, bukan ofensif. Jepang juga menegaskan bahwa mereka tetap membuka pintu diplomasi dan tidak berniat memperburuk hubungan dengan China.
Namun, di tengah meningkatnya kekuatan militer China dan intensitas latihan di sekitar Selat Taiwan, Jepang merasa perlu memperkuat sistem pertahanan pangkalannya di wilayah barat daya. Bagi Jepang, potensi konflik di Taiwan bukan saja ancaman bagi negara itu sendiri, tetapi juga bagi jalur perdagangan dan keamanan kawasan Asia Timur.
Reaksi Taiwan dan Pengamat Internasional
Pemerintah Taiwan menanggapi ketegangan ini dengan menegaskan kembali bahwa masa depan pulau tersebut harus ditentukan oleh rakyat Taiwan. Taipei menyatakan bahwa baik ancaman dari China maupun dukungan dari negara lain tidak boleh mengabaikan prinsip demokrasi yang menjadi dasar pemerintahan Taiwan.
Para pengamat internasional melihat peringatan China kepada Jepang sebagai sinyal bahwa situasi di Asia Timur berada dalam titik yang sangat sensitif. Ancaman langsung terhadap Jepang menunjukkan bahwa Beijing semakin tegas mempertahankan klaimnya atas Taiwan dan tidak ragu menggunakan retorika militer untuk mencegah campur tangan negara lain.
Di sisi lain, analis mencatat bahwa Jepang kini berada dalam posisi sulit: antara kebutuhan untuk menjaga keamanan nasional dari potensi konflik, dan risiko terseret dalam konfrontasi langsung dengan China salah satu mitra dagang terbesarnya.
Zona Panas Baru di Asia Timur
Eskalasi retorika antara China dan Jepang memunculkan kekhawatiran bahwa kawasan Asia Timur bisa memasuki fase ketegangan baru. Penempatan rudal Jepang di Yonaguni, peningkatan latihan militer China di sekitar Taiwan, serta saling tuduh kedua negara dapat memicu dinamika yang sulit dikendalikan.
China memastikan bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika Jepang melangkah terlalu jauh dalam isu Taiwan. Sementara Jepang menegaskan bahwa kebijakan mereka hanya bertujuan melindungi negara dan memastikan stabilitas kawasan.
Pertanyaannya kini: apakah kedua negara akan memilih dialog, atau justru bergerak menuju konfrontasi? Dengan sensitivitas tinggi di Selat Taiwan, setiap langkah berikutnya baik oleh Tokyo maupun Beijing akan sangat menentukan arah keamanan regional dalam waktu dekat.

