Imigran Afghanistan Mantan CIA Tembak Garda Nasional AS, Motif Masih Misterius

Imigran Afghanistan Mantan CIA Tembak Garda Nasional AS, Motif Masih Misterius

KONEKSI MEDIA – Kejadian tragis di Washington, D.C. pada Rabu (26/11/2025) mengguncang Amerika Serikat ketika seorang imigran Afghanistan menembak dua anggota United States National Guard (Garda Nasional) hanya beberapa blok dari White House. Pelaku diidentifikasi sebagai Rahmanullah Lakanwal, 29 tahun mantan anggota pasukan Afganistan yang konon dulu bekerja sama dengan Central Intelligence Agency (CIA). Tragedi ini memicu pertanyaan besar: mengapa seseorang yang dulu dianggap sekutu berubah menjadi ancaman?

Siapa Rahmanullah Lakanwal?

  • Lakanwal diketahui pernah bertugas di unit paramiliter Afghanistan yang diback‑up CIA, dikenal sebagai “zero units” atau unit khusus kontra‑terorisme. Unit ini terlibat dalam operasi malam dan razia termasuk tugas keras di medan perang melawan Taliban.
  • Setelah evakuasi AS dari Afghanistan pada 2021, Lakanwal datang ke AS lewat program kemanusiaan Operation Allies Welcome program pelarian bagi warga Afghanistan yang membantu AS.
  • Ia kemudian mendapatkan status suaka pada April 2025. Namun status baru ini mendorong debat sengit soal bagaimana proses “vetting” (pemeriksaan latar belakang) dilakukan, khususnya bagi mereka yang pernah terlibat operasi militer/intelijen.

Kronologi Serangan & Tanggapan Resmi

  • Pada Rabu siang, Lakanwal dikatakan tiba di Washington, D.C., mengendarai mobil dari Washington State tempat tinggal terakhirnya sebelum kejadian dan menembak dua anggota Garda Nasional (yang berasal dari unit West Virginia).
  • Satu korban seorang wanita meninggal dunia, sementara rekan prianya kritis. Pelaku segera ditahan setelah baku tembak dengan petugas.
  • Jaksa penuntut kini menaikkan dakwaan menjadi pembunuhan tingkat pertama, bersama dakwaan senjata api dan serangan bersenjata, dan mempertimbangkan hukuman mati.
  • Sementara itu, pejabat federal mengatakan investigasi sedang berlangsung termasuk pemeriksaan latar belakang Lakanwal, potensi koneksi ke jaringan ekstremis, serta kondisi psikologis dan trauma masa lalunya.

Motif Masih Banyak Pertanyaan

Hingga kini, motif pasti penembakan tersebut belum ditemukan.

  • Pejabat penegak hukum menyatakan terlalu dini untuk menyimpulkan sebabnya; meskipun demikian, mereka tidak menutup kemungkinan bahwa ini termasuk tindakan terorisme.
  • Analisis sementara mencakup faktor-faktor seperti trauma dari pengalaman perang, tekanan psikologis, isolasi sosial, atau potensi radikalisasi apalagi bagi mantan kombatan yang tiba di negara baru dengan beban sejarah dan identitas.
  • Namun sejauh ini tidak ada bukti publik yang mengaitkan Lakanwal dengan kelompok ekstremis manapun dan ia belum membuat pernyataan publik yang mengungkap motifnya.

Mayoritas pejabat, termasuk Presiden, memperingatkan bahwa insiden ini bisa menjadi contoh kegagalan sistem imigrasi dan pemeriksaan latar belakang. Meskipun demikian, mereka juga mengakui bahwa penentuan motif jelas harus menunggu hasil penyelidikan.

Keamanan, Imigrasi, dan Kepercayaan

Kasus ini bukan sekadar soal penembakan tragis melainkan ujian bagi kebijakan imigrasi dan sistem keamanan nasional AS:

  • Kedatangan mantan kombatan dan pekerja intelijen Afghanistan ke AS dianggap sebagai tindakan kemanusiaan, tetapi insiden seperti ini menimbulkan keraguan serius terhadap proses vetting dan monitoring jangka panjang.
  • Banyak politisi kini menuntut moratorium atau peninjauan ulang kebijakan suaka dan program imigrasi bagi warga negara dari zona konflik.
  • Kasus ini juga mengguncang kepercayaan publik tidak hanya terhadap keamanan di ibu kota nasional, tetapi terhadap bagaimana mantan sekutu perang diperlakukan dan diintegrasikan di negara tujuan.