KONEKSI MEDIA – Sebuah media ternama berbasis di Amerika Serikat baru-baru ini menyoroti Ibu Kota Nusantara (IKN) dan menyebut proyek tersebut sebagai salah satu inisiatif pembangunan perkotaan paling ambisius di dunia saat ini. Mereka menggambarkan IKN sebagai “kota masa depan” yang berpotensi menjadi model global untuk keberlanjutan, teknologi, dan ketahanan iklim.
Dalam laporan tersebut, IKN dipuji sebagai kota yang dirancang untuk menjadi nol-emisi, mengusung konsep smart city, dan dibangun dengan visi jangka panjang agar dapat berkembang seiring perubahan zaman. Media itu menilai bahwa Indonesia berani mengambil langkah besar dengan merelokasi ibu kota dan memulai dari nol sebuah pusat pemerintahan yang benar-benar baru, sesuatu yang jarang ditempuh negara lain. Transformasi ini dianggap bukan hanya pemindahan lokasi administrasi, tetapi juga transformasi menyeluruh menuju tata kelola yang lebih modern dan efisien.
Namun, di balik apresiasi tersebut, muncul pula sorotan kritis dari media asing lainnya. Salah satu media internasional yang cukup berpengaruh memperingatkan bahwa IKN berpotensi menjadi “kota hantu” apabila dinamika pembangunan tidak diikuti dengan kedatangan penduduk dalam jumlah signifikan. Dalam laporan mereka, digambarkan suasana IKN yang sudah tampak megah dengan jalan raya lebar, gedung-gedung futuristik, dan fasilitas pemerintahan yang mulai berdiri tetapi masih minim aktivitas manusia.
Mereka menyoroti bahwa meskipun infrastruktur fisik terus dibangun, pemindahan aparatur sipil negara (ASN) dianggap berjalan lambat. Selain itu, alokasi anggaran pemerintah untuk proyek ini disebut mengalami penyesuaian signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kekhawatiran tersebut kemudian berkembang menjadi narasi bahwa IKN dapat berakhir sebagai kota modern yang indah, namun sepi penghuni.
Pemberitaan ini langsung mendapat tanggapan dari pemerintah Indonesia dan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan IKN tetap berjalan sesuai rencana jangka panjang dan tidak pernah bergantung pada satu fase tunggal. Kepala OIKN menekankan bahwa pembangunan IKN bukan hanya menciptakan bangunan, tetapi juga ekosistem manusia termasuk fasilitas pendidikan, kesehatan, pemerintahan, serta ruang sosial dan ekonomi.
Pemerintah juga memastikan bahwa berbagai fasilitas inti, mulai dari kantor kementerian, hunian ASN, infrastruktur dasar, hingga fasilitas kesehatan telah memasuki tahap penyelesaian dan siap beroperasi secara bertahap. Mereka menyebut bahwa penilaian “kota hantu” terlalu terburu-buru, mengingat IKN dirancang melalui proses bertahap yang akan berlangsung hingga lebih dari satu dekade.
Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai bahwa kritik internasional justru bermanfaat sebagai pengingat agar proyek ini dikelola dengan lebih transparan, terencana, dan konsisten. Mereka menilai bahwa keberhasilan IKN bergantung pada tiga faktor utama: kepastian pendanaan, migrasi penduduk yang terukur, serta pembangunan sosial-ekonomi yang berjalan paralel dengan pembangunan fisik.
Dengan sorotan internasional yang semakin intens, masa depan IKN menjadi isu yang menarik perhatian dunia. Kini, pertanyaannya bukan hanya apakah Indonesia mampu menyelesaikan IKN sesuai rencana, tetapi juga apakah kota ini bisa tumbuh menjadi pusat pemerintahan yang hidup dan dinamis bukan sekadar simbol modernitas.
