KONEKSI MEDIA – Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan sisi humoris sekaligus reflektifnya dalam acara Perayaan Natal Nasional Tahun 2025 yang digelar di Jakarta pada Senin malam, 5 Januari 2026. Di hadapan ribuan jemaat dan tamu undangan, Prabowo melontarkan kelakar mengenai catatan panjang keikutsertaannya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres), yang menurutnya selalu kandas sebelum akhirnya menang di percobaan keempat karena faktor dukungan Luhut Binsar Pandjaitan.
Nostalgia Kekalahan dan Peran Sang Sahabat
Dalam pidatonya yang berlangsung hangat, Presiden Prabowo sempat menyinggung perjalanan politiknya yang penuh liku. Ia tidak segan mengakui bahwa dirinya telah mengikuti kontestasi Pilpres sebanyak empat kali, namun baru berhasil duduk di kursi RI-1 setelah melewati tiga kekalahan pahit.
“Saya ini sudah empat kali ikut pemilu, tiga kali kalah. Soalnya waktu itu Pak Luhut nggak dukung saya sih,” ujar Prabowo yang langsung disambut tawa riuh dari para hadirin, termasuk Luhut Binsar Pandjaitan yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN).
Candaan ini merujuk pada sejarah hubungan keduanya yang merupakan sesama purnawirawan TNI dari kesatuan Korps Baret Merah (Kopassus). Pada Pilpres 2014 dan 2019, Luhut memang berada di barisan pendukung lawan politik Prabowo, yakni Joko Widodo. Baru pada Pilpres 2024, keduanya benar-benar berada di satu perahu yang sama di bawah payung keberlanjutan pemerintahan Jokowi.
Menepis Isu Politis di Balik Program Makan Bergizi Gratis
Selain melempar candaan, Presiden Prabowo juga menggunakan panggung tersebut untuk memberikan klarifikasi tegas terkait tudingan negatif terhadap program unggulannya, Makan Bergizi Gratis (MBG). Seiring dengan berjalannya satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran per 6 Januari 2026, muncul suara-suara sumbang yang menyebut program tersebut hanyalah alat politik untuk “mencuri start” kampanye Pilpres 2029.
“Ada yang nuduh, ada, Prabowo bikin MBG ini supaya nanti 2029 dia dipilih kembali. Selalu berpikir negatif,” tegas Prabowo.
Beliau menambahkan bahwa fokus utamanya saat ini adalah melindungi rakyat kecil, terutama anak-anak, agar tidak ada lagi yang kekurangan gizi di tanah air yang kaya ini.
Meski demikian, dengan gaya diplomatisnya yang khas, Prabowo tidak menutup kemungkinan jika kinerja baiknya membuat rakyat kembali memberikan kepercayaan di masa depan.
“Tapi kalau rakyat milih saya tahun 2029, apa salah saya? Ya kan? Kalau Tuhan mengizinkan. Kalau Tuhan tidak mengizinkan, saya buat apa saja tidak akan terjadi,” tambahnya.
Pencapaian Fantastis: 55 Juta Penerima Manfaat
Data terbaru yang diungkapkan Presiden dalam acara tersebut menunjukkan kemajuan signifikan dari Badan Gizi Nasional. Hingga 5 Januari 2026, tercatat sudah ada 55 juta penerima manfaat yang mendapatkan asupan nutrisi dari program MBG setiap harinya.
Prabowo mengilustrasikan jumlah tersebut dengan perbandingan yang cukup mencolok.
“55 juta mulut, saudara-saudara. Itu berarti sama dengan memberikan makan delapan kali populasi Singapura setiap hari,” jelasnya.
Angka ini naik dari laporan awal yang ia terima sebesar 51 juta jiwa.
Kehadiran Luhut Binsar Pandjaitan di kabinet dan lembaga strategis diakui Prabowo memberikan dampak besar bagi eksekusi program-program pemerintah yang bersifat teknis dan memerlukan ketegasan. Hubungan “benci tapi rindu” antara dua jenderal ini kini telah bertransformasi menjadi kolaborasi solid yang memperkuat stabilitas ekonomi nasional.
Makna Kebersamaan di Awal Tahun
Perayaan Natal Nasional 2025 ini menjadi momen penting bagi Presiden untuk menekankan pentingnya persatuan. Bagi Prabowo, tidak ada gunanya terus-menerus melihat ke belakang atas kekalahan di masa lalu atau perbedaan dukungan politik yang pernah terjadi antara dirinya dan Luhut.
Ia menutup pidatonya dengan mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung keberlanjutan pembangunan. Baginya, menang atau kalah dalam pemilu adalah hal biasa, namun komitmen untuk mensejahterakan rakyat adalah mandat yang mutlak.

