KONEKSI MEDIA – Memasuki minggu kedua Januari 2026, Republik Islam Iran berada dalam kondisi yang disebut para analis sebagai “badai sempurna.” Kombinasi dari runtuhnya nilai mata uang, hiperinflasi yang mencekik, dan kemarahan publik yang meledak telah membawa negara ini ke titik nadir. Apa yang bermula sebagai protes atas harga roti dan telur di akhir Desember 2025, kini telah bertransformasi menjadi pemberontakan nasional yang mengguncang fondasi kekuasaan di Teheran.
Runtuhnya Rial dan Hiperinflasi Pangan
Pemicu utama ledakan sosial ini adalah kejatuhan mata uang Rial (IRR) ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Per pertengahan Januari 2026, di pasar bebas Teheran, nilai tukar menembus angka 1,4 juta Rial per satu Dollar AS. Sebagai perbandingan, pada awal 2025, nilai tersebut masih berada di kisaran 450.000 Rial. Depresiasi yang mencapai lebih dari 200% dalam setahun ini telah menghancurkan daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah.
Dampaknya terasa langsung di meja makan warga. Harga bahan pokok seperti daging, minyak goreng, dan susu dilaporkan melonjak hingga 75,4% dalam hitungan bulan. Inflasi tahunan secara keseluruhan kini diproyeksikan melampaui 60%, menciptakan situasi di mana jutaan keluarga terpaksa memangkas porsi makan harian mereka demi bertahan hidup.
Pemicu Eksternal: Sanksi PBB dan Konflik Regional
Kondisi ekonomi ini diperburuk oleh dinamika geopolitik. Pada September 2025, mekanisme “snapback” sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali diaktifkan terkait ketidakpatuhan Iran pada program nuklirnya. Sanksi ini mengisolasi sektor perbankan Iran lebih jauh dan memutus jalur perdagangan yang tersisa.
Selain itu, dampak psikologis dari perang singkat 12 hari melawan Israel pada Juni 2025 masih menyisakan trauma. Kerusakan pada beberapa infrastruktur energi dan persepsi kerentanan sistem pertahanan Iran telah memicu pelarian modal besar-besaran. Warga yang panik berebut menukarkan Rial mereka dengan emas atau mata uang asing, yang semakin mempercepat kejatuhan mata uang domestik.
Dari Perut Menuju Revolusi
Gelombang protes yang kini melanda lebih dari 180 kota di seluruh 31 provinsi Iran menunjukkan pergeseran narasi yang signifikan. Jika pada protes-protes sebelumnya tuntutan warga terbatas pada perbaikan ekonomi, kali ini slogan-slogan di jalanan secara terang-terangan menargetkan kepemimpinan tertinggi.
Slogan seperti “Mati bagi diktator!” dan “Kami tidak menginginkan Republik Islam!” bergema dari Grand Bazaar Teheran hingga wilayah pinggiran di Sistan-Baluchestan. Partisipasi para pedagang pasar (Bazaari) yang secara historis merupakan pilar pendukung rezim dalam aksi mogok kerja nasional menjadi sinyal merah bagi pemerintah bahwa dukungan tradisional mereka telah terkikis habis.
Respons Keras Pemerintah dan Pemadaman Informasi
Menghadapi tantangan eksistensial ini, pemerintah Iran di bawah Presiden Masoud Pezeshkian dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei merespons dengan tangan besi. Laporan dari lembaga hak asasi manusia internasional menyebutkan sedikitnya 496 pengunjuk rasa tewas sejak akhir Desember, dengan ribuan lainnya ditahan.
Untuk mencegah koordinasi massa dan menutupi skala kekerasan, otoritas Iran memberlakukan pemadaman internet total (blackout) di banyak wilayah. Namun, video-video amatir yang berhasil dikirim melalui jaringan satelit menunjukkan bentrokan sengit di jalanan, di mana dalam beberapa kasus, demonstran mulai membalas tindakan aparat keamanan dengan cara-cara yang lebih konfrontatif.
Bayang-Bayang Intervensi Asing
Situasi semakin pelik dengan kembalinya Donald Trump ke panggung politik global, yang secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap para demonstran. Teheran menanggapi hal ini dengan menuduh Washington dan Tel Aviv sebagai dalang di balik kerusuhan. Tuduhan ini digunakan untuk melegitimasi penindasan domestik atas nama keamanan nasional, namun bagi rakyat yang kelaparan, narasi “konspirasi asing” tersebut tampaknya mulai kehilangan taringnya.

