Kehidupan Warga di Gang Sempit Stasiun Kampung Bandan

Kehidupan Warga di Gang Sempit Stasiun Kampung Bandan

KONEKSI MEDIA – Suara deru kereta api terdengar di Stasiun Bandan, Jakarta Utara. Para penumpang pun terlihat turun dan pergi meninggalkan area stasiun kemudian menyusuri gang-gang sempit yang ada di sekitar stasiun. Derap langkah penumpang dan suara kereta yang menderu itu membuat Rohanah (53) yang sedang tidur di kursi sambil menjaga toko kelontongnya terkesiap bangun.

Dengan kesadaran yang belum penuh, dia lalu melayani penumpang kereta yang mampir di tokonya untuk membeli minuman dan makanan ringan. 

“Alhamdulillah, ada yang beli,” kata dia saat ditemui pada Minggu (30/11) 

Rohanah mengaku sudah sejak lahir tinggal di Kampung Bandan. Di rumah yang berukuran tak terlalu besar itu, dia tinggal bersama dua anaknya. Bagi dia, rumah itu adalah peninggalan paling berharga dari orang tuanya yang telah tiada. Di sana, dia berteduh dari terik mentari dan beristirahat saat lelah.

“Orang lama saya di sini, dari lahir,” ujar dia.

Dikarenakan sudah lama tinggal berdekatan dengan stasiun kereta api, Rohanah sudah terbiasa. Dia sama sekali tak terganggu dengan suara kereta yang hampir tiap menit hilir mudik. Malah, dia menilai keberadaan Stasiun Bandan membawa berkah baginya.

“Enggak, udah biasa. Orang pada naik kereta, rame sih kalau pagi sampai sore pada pulang dari stasiun,” ucap dia.

Kekhawatiran Lain: Status Tanah dan Ketidakpastian Hunian

Meski sudah lama tinggal, Rohanah dan banyak warga lain memiliki kekhawatiran yang serius. Mereka banyak yang belum memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) atas tanah atau rumah mereka. Ketika rumah berasal dari orang tua, surat-surat kepemilikan bisa jadi hilang atau tak pernah diterbitkan. Hal ini membuat mereka rawan sewaktu‑waktu diusir atau diminta pergi.

Seorang warga lain, Vianto (44), yang tinggal bersama orang tua dan tiga anak, juga menghadapi situasi serupa. Dia hanya memiliki Hak Guna Bangunan (HGB). Meski hidup di lingkungan padat dan sempit, kekhawatiran soal masa depan tempat tinggal masih menghantui.

Menurut Vianto, meskipun anatara rumah‑rumah di gang sempit dan rel kereta, kehidupan tetap berjalan; suara kereta dan kesibukan stasiun sudah jadi hal biasa dan kadang “menguntungkan” karena akses transportasi mudah.

Realitas: Antara Kenyamanan Relatif dan Kerentanan Sosial

Kisah di Kampung Bandan menunjukkan dua wajah: di satu sisi, warga sudah terbiasa dan bisa “nyaman” dengan kondisi padat serta kebisingan karena bagi mereka stasiun menawarkan kemudahan dan peluang usaha. Di sisi lain, ada kerentanan struktural: rumah yang tidak memiliki sertifikat resmi, kepastian hak atas tanah, dan kemungkinan kehilangan tempat tinggal sewaktu‑waktu. Dalam lingkungan di mana rel kereta, kepadatan, dan minimnya regulasi kepemilikan tanah bercampur, ketidakpastian itu menjadi beban besar.

Kondisi ini mirip dengan pemukiman padat di kota besar lainnya, di mana gang sempit dan hunian vertikal informal seringkali membuat ventilasi dan penerangan alami buruk; makin ke dalam, rumah bisa sangat gelap, sumpek, dan nyaris tanpa ruang terbuka.

Kenangan, Harapan, dan Tantangan: Refleksi Warga Kampung Bandan

Bagi warga seperti Rohanah dan Vianto, rumah di Kampung Bandan bukan sekadar tempat tinggal melainkan warisan, identitas, dan kenyamanan sederhana. Mereka sudah tumbuh besar di sana, merasakan hidup bersama stasiun, gang sempit, dan komunitas yang padat.

Tapi di balik keseharian itu ada harapan besar: agar mereka bisa mendapatkan kepastian legal atas tanah dan rumah mereka agar generasi mendatang punya jaminan tempat tinggal yang aman. Tanpa itu, rumah mereka sekalipun kecil dan sederhana bisa hilang sewaktu‑waktu.

Di tengah gemerlap dan lancarnya moda transportasi di Jakarta, kisah warga Kampung Bandan mengingatkan kita: di balik infrastruktur dan mobilitas, masih ada manusia dan komunitas yang hidup dalam kondisi penuh ketidakpastian kadang tak terlihat dari jendela gerbong kereta.