KONEKSI MEDIA – Memasuki akhir tahun 2025, pasar properti komersial di Bali menunjukkan sinyal perlambatan yang patut dicermati. Bank Indonesia (BI) dalam kajian terbarunya mencatat bahwa pada Triwulan IV 2025, pertumbuhan harga properti komersial di Pulau Dewata tidak sekuat periode sebelumnya. Fenomena ini terjadi di tengah dinamika sektor akomodasi yang masih menghadapi penyesuaian pascapandemi, perubahan pola wisatawan, serta tekanan biaya operasional.
Meski Bali tetap menjadi magnet utama pariwisata nasional dan internasional, geliat properti komersialmulai dari hotel, vila, hingga ruang ritel tidak sepenuhnya bergerak seirama dengan peningkatan kunjungan wisata. Laporan BI menegaskan bahwa perlambatan ini bukan tanda pelemahan struktural, melainkan cerminan dari fase konsolidasi pasar yang sedang berlangsung.
Geliat Awal: Gambaran Umum Perkembangan Properti Komersial Bali
Menariknya, pasar properti komersial Bali sepanjang 2025 sebenarnya diawali dengan optimisme yang cukup tinggi. Pada paruh pertama tahun ini, harga properti komersial masih tumbuh positif, didorong oleh peningkatan okupansi hotel dan kembalinya berbagai agenda internasional. Investor domestik maupun asing terlihat aktif mencari aset strategis, khususnya di kawasan Badung, Denpasar, dan Gianyar.
Namun, memasuki Triwulan IV 2025, laju kenaikan harga mulai melambat. Bank Indonesia mencatat bahwa Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) Bali mengalami pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan ini terutama terjadi pada segmen hotel berbintang menengah dan ruang ritel, seiring meningkatnya persaingan dan kehati-hatian pelaku usaha dalam melakukan ekspansi.
Sorotan Utama: Dinamika Sektor Akomodasi yang Berubah
Di balik angka-angka tersebut, sektor akomodasi menjadi faktor kunci yang memengaruhi pergerakan harga properti komersial. Perubahan preferensi wisatawan, terutama meningkatnya minat terhadap akomodasi berbasis pengalaman dan hunian jangka pendek, membuat beberapa model bisnis konvensional harus beradaptasi. Hotel besar dan pusat perbelanjaan tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan utama wisatawan.
Selain itu, peningkatan suplai properti akomodasi di sejumlah kawasan turut menekan laju kenaikan harga. Banyak proyek yang direncanakan pada masa pemulihan pariwisata kini telah rampung dan masuk ke pasar secara bersamaan. Kondisi ini menciptakan persaingan ketat, sehingga pemilik properti cenderung menahan kenaikan harga demi menjaga tingkat hunian dan arus kas.
Analisis BI: Faktor Permintaan, Biaya, dan Kehati-hatian Investor
Lebih dalam, Bank Indonesia menyoroti melemahnya pertumbuhan permintaan sebagai salah satu penyebab utama perlambatan harga. Meskipun kunjungan wisatawan meningkat, belanja wisata dan lama tinggal cenderung stagnan. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan pelaku usaha akomodasi dan ritel, yang pada akhirnya memengaruhi valuasi properti komersial.
Di sisi lain, kenaikan biaya operasional mulai dari upah tenaga kerja, biaya energi, hingga perawatan bangunan membuat margin usaha semakin tertekan. Investor pun menjadi lebih selektif dalam mengambil keputusan, dengan fokus pada properti yang memiliki lokasi premium dan model bisnis berkelanjutan. Sikap wait and see ini memperlambat transaksi dan menahan laju kenaikan harga di pasar sekunder.
Harapan ke Depan: Prospek dan Strategi Menyikapi Perlambatan
Meski melambat, Bank Indonesia menilai prospek jangka menengah properti komersial Bali tetap positif. Stabilitas ekonomi nasional, inflasi yang terjaga, serta dukungan kebijakan makroprudensial memberikan fondasi yang kuat bagi pemulihan berkelanjutan. Bali juga terus mengembangkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, yang diyakini akan menciptakan permintaan baru bagi properti komersial.
Ke depan, pelaku usaha dan investor diharapkan mampu mengadaptasi strategi bisnis dengan dinamika pasar. Inovasi konsep akomodasi, optimalisasi digitalisasi, serta pengelolaan biaya yang efisien menjadi kunci bertahan di tengah perlambatan. Dengan pendekatan yang tepat, perlambatan harga pada Triwulan IV 2025 dapat menjadi momentum konsolidasi sebelum pasar kembali bergerak lebih agresif pada tahun-tahun berikutnya.

