Mahasiswa KKN UGM Kenalkan Teknologi Bakar Sampah Minim Polusi

Mahasiswa KKN UGM Kenalkan Teknologi Bakar Sampah Minim Polusi

KONEKSI MEDIA – Dalam upaya menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan terobosan inovatif dengan mengenalkan teknologi bakar sampah minim polusi di Desa Sumberrejo, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan yang ramah teknologi dan ramah lingkungan.

Mahasiswa KKN UGM angkatan 2026 yang terdiri dari 25 orang itu membawa sebuah alat bernama Eco-Burner, sebuah teknologi pembakaran sampah yang dirancang untuk mengurangi emisi berbahaya seperti karbon monoksida, partikulat, dan bau tidak sedap. Berbeda dengan pembakaran sampah tradisional yang sering menjadi sumber polusi udara, Eco-Burner menggunakan prinsip pembakaran bersih dengan suhu tinggi dan aliran udara yang dikontrol secara tepat sehingga residu yang dihasilkan lebih sedikit dan aman bagi lingkungan.

“Teknologi ini kami kembangkan untuk masyarakat desa yang masih banyak membakar sampah secara tradisional. Dengan Eco-Burner, kami ingin menunjukkan bahwa ada cara yang lebih aman, bersih, dan efisien dalam mengelola sampah rumah tangga,” jelas Rahmawati, salah satu mahasiswa KKN UGM yang menjadi koordinator proyek, dalam wawancara di lokasi kegiatan, Senin (2/2/2026).

Kegiatan pengenalan teknologi ini dilakukan dengan beberapa tahap. Pertama, mahasiswa KKN memberikan sosialisasi tentang bahaya pembakaran sampah konvensional, yang dapat menimbulkan polusi udara, penyakit pernapasan, dan pencemaran lingkungan. Setelah itu, mereka melakukan demo pembakaran sampah menggunakan Eco-Burner, yang menarik perhatian warga karena asap yang dihasilkan jauh lebih sedikit dan tidak berbau menyengat.

Warga Desa Sumberrejo yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan respons positif. “Biasanya kalau membakar sampah, asapnya banyak dan bikin pusing. Tapi alat ini asapnya hampir tidak ada dan sampah cepat habis,” ujar Pak Winarno, salah seorang warga.

Selain demo, mahasiswa KKN juga mengadakan pelatihan operasional Eco-Burner bagi warga. Pelatihan ini mencakup cara memasukkan sampah, menyalakan alat, hingga membersihkan sisa pembakaran. Rahmawati menekankan bahwa keberhasilan teknologi ini sangat tergantung pada partisipasi masyarakat dalam penggunaan yang tepat.

Inovasi ini lahir dari kolaborasi antara mahasiswa KKN dengan dosen Fakultas Teknik UGM, yang sebelumnya meneliti teknologi pembakaran bersih berbasis energi tinggi. Dr. Agus Santoso, dosen pembimbing, mengatakan bahwa Eco-Burner dapat menjadi solusi untuk masalah sampah di kawasan perdesaan, di mana pengelolaan sampah masih terbatas.

“Prinsipnya sederhana, membakar sampah dengan suhu tinggi dan oksigen terkontrol, sehingga minim polusi. Ini sekaligus mendukung tujuan UGM dalam inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menekankan pendekatan edukatif dan partisipatif. Mahasiswa tidak hanya mengenalkan alat, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah sebelum dibakar, memisahkan sampah organik dan anorganik, serta mengurangi limbah yang tidak perlu. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan teknologi semata, tetapi juga mengubah perilaku dalam pengelolaan sampah.

Keberhasilan kegiatan KKN ini mendapat perhatian dari pemerintah desa. Kepala Desa Sumberrejo, Ibu Sri Hartini, menyatakan bahwa inovasi mahasiswa UGM ini sangat relevan dengan program desa yang ingin menciptakan lingkungan bersih dan sehat.

“Kami sangat mengapresiasi mahasiswa KKN UGM yang sudah membawa inovasi ini. Kami akan mendukung penuh agar Eco-Burner bisa digunakan secara rutin oleh masyarakat,” katanya.

Selain manfaat lingkungan, mahasiswa KKN juga menyoroti potensi ekonomi dari teknologi Eco-Burner. Sisa pembakaran yang berupa abu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian lokal, sehingga sampah yang dibakar tidak sepenuhnya menjadi limbah. Dengan demikian, inovasi ini sekaligus mendukung program pertanian berkelanjutan di desa.

Rahmawati menambahkan bahwa kegiatan ini hanyalah langkah awal. Mahasiswa KKN UGM berencana untuk melakukan monitoring berkala terkait efektivitas Eco-Burner dan dampaknya terhadap kualitas udara di desa. Selain itu, mereka juga membuka peluang bagi warga untuk memodifikasi alat sesuai kebutuhan lokal, sehingga teknologi ini benar-benar bisa beradaptasi dengan kondisi perdesaan di Indonesia.

Penggunaan teknologi bakar sampah minim polusi ini menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa dapat berperan dalam mengatasi masalah lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat. Dengan kombinasi edukasi, inovasi teknologi, dan partisipasi masyarakat, desa-desa di Indonesia memiliki peluang untuk mengelola sampah dengan cara yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Kegiatan KKN UGM di Desa Sumberrejo ini menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berbentuk fisik atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Sebagai universitas yang memiliki komitmen terhadap penelitian dan inovasi, UGM terus mendorong mahasiswanya untuk menciptakan solusi praktis bagi masalah sosial dan lingkungan di Indonesia.

Dengan teknologi Eco-Burner, mahasiswa KKN UGM membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan lagi masalah yang menakutkan, melainkan tantangan yang bisa diatasi dengan inovasi, edukasi, dan kerja sama. Desa Sumberrejo kini menjadi contoh bagi desa-desa lain, bahwa masa depan lingkungan bersih dan sehat dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama-sama.