KONEKSI MEDIA – Awal tahun 2026 menjadi titik balik bagi ratusan warga Kabupaten Aceh Tamiang yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana hidrometeorologi ekstrem pada akhir November 2025 lalu. Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bersama sejumlah BUMN, secara resmi mulai memperkenalkan kompleks Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun di Desa Upah, Kecamatan Bendahara, dan beberapa titik lainnya.
Huntara ini bukan sekadar tenda darurat, melainkan kompleks perumahan modular yang dirancang untuk mengembalikan harkat hidup para penyintas. Dengan target total 15.000 unit di seluruh wilayah terdampak, 600 unit pertama di Aceh Tamiang dijadwalkan akan diserahterimakan pada 8 Januari 2026.
Lantas, fasilitas apa saja yang bisa ditemukan di dalam “Rumah Danantara” ini? Mari kita intip lebih dekat.
1. Desain Modular yang Manusiawi
Setiap unit hunian memiliki ukuran 4,5 x 4,5 meter (sekitar 22 meter persegi). Berbeda dengan tenda yang pengap, unit huntara ini menggunakan material modular dengan lantai panggung dari tripleks tebal untuk menghindari kelembapan tanah. Dindingnya kokoh dan setiap unit dilengkapi dengan satu pintu serta satu jendela lebar untuk memastikan sirkulasi udara yang baik.
2. Furnitur dan Perlengkapan Kamar
Warga yang pindah ke huntara tidak lagi harus tidur beralaskan tikar di atas tanah. Di dalam setiap ruangan, pengelola telah menyediakan:
- Dua tempat tidur lengkap dengan kasur.
- Satu unit kipas angin untuk menjaga kenyamanan suhu ruangan.
- Lemari plastik untuk menyimpan pakaian dan barang pribadi.
- Instalasi listrik mandiri dengan meteran di setiap unit.
3. Fasilitas Umum dan Sanitasi Modern
Salah satu masalah utama di pengungsian adalah akses air bersih. Di kompleks huntara Aceh Tamiang, pemerintah membangun:
- 120 unit toilet dan kamar mandi umum yang dipisahkan antara pria dan wanita.
- 14 unit dapur umum yang tersebar di beberapa blok untuk memudahkan warga memasak.
- Jaringan air bersih yang dikelola melalui instalasi khusus untuk memastikan ketersediaan air 24 jam.
4. Konektivitas dan Kesehatan
Memahami pentingnya informasi dan pendidikan bagi anak-anak pengungsi, kompleks ini dilengkapi dengan layanan WiFi gratis yang disediakan oleh Telkom Indonesia. Selain itu, terdapat klinik kesehatan di dalam perkarangan huntara yang siap melayani kebutuhan medis warga tanpa dipungut biaya.
5. Ruang Sosial dan Taman Bermain
Huntara ini mengadopsi kebutuhan sosial agar warga tidak merasa terisolasi. Di depan setiap blok, terdapat deretan pot tanaman yang tersusun rapi dan kursi-kursi taman untuk tempat bersosialisasi. Bagi anak-anak, tersedia taman bermain dengan rumput sintetis agar mereka tetap bisa bermain dengan aman di lingkungan yang asri.
Sinergi BUMN untuk Percepatan
Pembangunan huntara ini merupakan hasil kolaborasi “keroyokan” dari berbagai pihak. Lahan disediakan oleh PTPN III, sementara proses konstruksi dipimpin oleh Hutama Karya sebagai koordinator lapangan, bekerja sama dengan BUMN Karya lainnya seperti Waskita Karya, Wijaya Karya, Brantas Abipraya, PT PP, Adhi Karya, dan Nindya Karya.
Dukungan finansial dan logistik diperkuat oleh Himbara (Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN) serta BSI. Dengan kerja nonstop 24 jam, pembangunan tahap pertama ini berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan sejak groundbreaking pada 24 Desember 2025.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa huntara ini adalah wujud kehadiran negara untuk menyediakan tempat tinggal yang “layak, aman, dan bermartabat”. Huntara ini akan menjadi jembatan bagi warga sebelum nantinya mereka direlokasi secara permanen ke Hunian Tetap (Huntap) yang lokasinya saat ini sedang dalam proses pembebasan lahan seluas 4 hektare di Desa Bundar.

