KONEKSI MEDIA – Ketegangan geopolitik yang meningkat di wilayah Arktik kini mencapai titik kritis. Pada tengah meningkatnya ancaman terhadap kedaulatan Greenland, Denmark yang secara historis bertanggung jawab atas pertahanan wilayah itu terlihat tengah memikul beban utama pertahanan. Sementara beberapa sekutu NATO mengirimkan pasukan dalam jumlah sangat terbatas, Denmark memperkuat kehadiran militer secara mandiri di wilayah strategis tersebut.
Greenland, pulau terbesar di dunia yang sebagian besar tertutup es, merupakan wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Karena lokasinya yang strategis di jalur udara dan laut Utara, serta potensi sumber daya mineral yang melimpah, kawasan ini kini menjadi titik fokus geopolitik antara NATO, Rusia, China, dan bahkan sekutu terkuat Denmark, yakni Amerika Serikat (AS).
NATO Kirim Puluhan Personel, Bukan Pasukan Tempur Besar
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa negara NATO mulai mengirimkan pasukan kecil ke Greenland sebagai bagian dari latihan militer bersama yang dipimpin Denmark, bernama Operation Arctic Endurance. Namun ukuran kontribusi pasukan dari sekutu sangat minim jumlahnya hanya puluhan personel dari berbagai negara, termasuk dari Inggris, Norwegia, Swedia, Jerman, dan Prancis, yang masing-masing menyumbangkan belasan tentara.
Contohnya, satu artikel melaporkan komposisi personel yang terdepan sangat kecil:
- 1 personel dari Inggris
- 2 dari Norwegia
- 3 dari Swedia
ditambah sejumlah kecil personel dari negara lainnya dalam total sekitar 30-an tentara NATO yang tiba di Nuuk, Greenland.
Kehadiran mereka bersifat simbolis dan lebih diarahkan sebagai bagian latihan Arctic Endurance ketimbang sebagai pasukan tempur penuh. Kontribusi ini kontras dengan apa yang biasanya diharapkan ketika sebuah wilayah strategis diambang ancaman tinggi yaitu kontinjen militer yang signifikan. Secara terang-terangan, skala pasukan NATO yang dikirim jauh lebih kecil dibandingkan jumlah pasukan yang diperlukan untuk pertahanan skala penuh.
Denmark Memikul Beban Utama
Karena kontribusi militer NATO relatif kecil, Denmark kini tampak berperan sebagai tumpuan pertahanan utama untuk Greenland. Pemerintah Kopenhagen mengumumkan peningkatan alokasi anggaran militer untuk pertahanan kawasan Arktik menjadi sekitar USD 13,7 miliar dan memperluas kekuatan militer baik di darat, laut, maupun udara menurut laporan terbaru.
Investasi ini mencakup:
- pembentukan armada laut Arktik dengan kapal patroli dan kapal pemecah es.
- pembangunan fasilitas radar baru untuk pengawasan udara dan rudal.
- pengembangan unit tentara infanteri khusus Arktik.
- serta peningkatan fasilitas radar, pangkalan logistik, dan infrastruktur pertahanan lainnya.
Denmark juga memperluas kemampuan pesawat patroli maritimnya untuk bekerja dalam koordinasi dengan sekutu NATO, namun ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan pertahanan berskala luas.
Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen menyatakan bahwa Denmark berkomitmen mempertahankan kedaulatan Greenland sendiri, termasuk menyiapkan kemampuan untuk menanggapi insiden militer secara cepat di daerah tersebut.
Ketegangan Dengan Amerika Serikat
Situasi ini diperparah oleh ketegangan antara Denmark dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk memperoleh Greenland dari Denmark dan tidak menutup kemungkinan penggunaan berbagai pendekatan, termasuk tekanan ekonomi dan bahkan senjata militer jika diperlukan. Pernyataan Trump telah memicu gelombang protes di Denmark dan Greenland dengan slogan seperti “Greenland is not for sale”.
AS bahkan mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa termasuk Denmark yang menolak ide pengambilalihan Greenland langkah yang memperuncing hubungan transatlantik dan merusak solidaritas NATO.
Denmark secara tegas menolak semua klaim tersebut. Menurut Menteri Luar Negeri Denmark, ambisi tersebut jelas menciderai kedaulatan dan tidak sesuai dengan prinsip pertahanan bersama NATO, yang justru dirancang untuk melindungi anggota aliansi dari ancaman luar, bukan oleh sekutu sendiri.
Respon Internasional dan Demonstrasi Publik
Respons politik dari negara lain termasuk Prancis, Jerman, dan negara Nordic adalah dukungan simbolis terhadap Denmark, namun tetap terbatas. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan pasukan Prancis akan segera diperkuat baik darat maupun udara untuk latihan di Arktik sebagai bagian dari dukungan kepada Denmark, namun jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan dengan skala ancaman geopolitik saat ini.
Di tingkat publik, ribuan penduduk Denmark dan Greenland turun ke jalan untuk memprotes apa yang mereka lihat sebagai intervensi eksternal, terutama menentang pernyataan Presiden Trump. Aksi ini menegaskan adanya dukungan kuat bagi kedaulatan Greenland yang tetap di bawah kendali Denmark.
Apa Artinya Bagi Masa Depan
Meski NATO secara resmi mencakup pertahanan kolektif di bawah Article 5, kenyataannya saat ini memperlihatkan bahwa keamanan Greenland masih sangat bergantung pada Denmark dan kapasitas militer internalnya. Kontribusi NATO tetap penting secara simbolis untuk menunjukkan solidaritas, tetapi pasukan yang dikirim terlalu kecil untuk memberikan jaminan pertahanan yang kuat dalam skenario konflik.
Krisis ini juga menimbulkan pertanyaan kritis tentang keandalan aliansi militer dan apakah struktur pertahanan kolektif NATO dapat bertahan di tengah perselisihan internal terutama ketika salah satu anggota terbesar (AS) mengambil posisi kontroversial terhadap anggota lain (Denmark).

