Prabowo Darurat Gizi, Puluhan Juta Anak Sekolah Masih Perut Kosong

Prabowo: Darurat Gizi, Puluhan Juta Anak Sekolah Masih Perut Kosong

KONEKSI MEDIA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali memberikan pernyataan tajam yang menghentak publik terkait kondisi riil kesejahteraan anak-anak di tanah air. Dalam serangkaian pidatonya, termasuk saat Peluncuran Digitalisasi Pembelajaran di Bekasi dan pengarahan strategis di Sidang Kabinet, Presiden mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam terhadap fakta bahwa puluhan juta anak Indonesia masih harus berangkat ke sekolah dengan perut kosong.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik, melainkan basis argumen kuat di balik akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi tulang punggung kebijakan pemerintahannya. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh menutup mata terhadap realita kemiskinan struktural yang merenggut hak dasar anak untuk mendapatkan energi sebelum belajar.

Realita Pahit di Balik Angka

Presiden Prabowo menyebutkan bahwa data yang ia terima menunjukkan fenomena “kelaparan tersembunyi” di sekolah-sekolah Indonesia. Merujuk pada berbagai studi gizi nasional, diperkirakan hampir satu dari tiga anak sekolah tidak sempat atau tidak mampu mengonsumsi sarapan yang layak.

“Saya tidak rela, di abad ke-21 ini, di negara yang kaya akan sumber daya alam, masih ada anak-anak kita yang berangkat sekolah dalam keadaan lapar,” tegas Prabowo.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini menjadi faktor utama rendahnya konsentrasi belajar dan tingginya angka stunting yang masih menghantui generasi muda Indonesia.

Kurangnya asupan nutrisi di pagi hari diyakini menjadi hambatan besar dalam mencapai visi “Indonesia Emas 2045”. Menurut Presiden, mustahil mengharapkan anak-anak bersaing di bidang sains, teknologi, maupun matematika jika kebutuhan biologis dasar mereka belum terpenuhi.

Makan Bergizi Gratis: Solusi Strategis, Bukan Sekadar Bansos

Menanggapi situasi darurat tersebut, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional telah menargetkan jangkauan luas bagi program Makan Bergizi Gratis. Per Agustus 2025, tercatat sekitar 20 juta warga, termasuk anak sekolah dan ibu hamil, telah mulai merasakan manfaat program ini. Presiden menargetkan seluruh anak sekolah di Indonesia akan ter-kover sepenuhnya pada akhir 2025.

Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi diskriminasi nutrisi. Prabowo menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga untuk bersatu padu mensukseskan program ini.

“Bagi saya, makan bergizi untuk anak-anak adalah hal strategis. Siapa yang tidak mendukung hal ini, silakan keluar dari pemerintahan saya,” ungkapnya dengan nada tegas dalam sidang kabinet beberapa waktu lalu.

Pemerintah juga mulai mengintegrasikan program ini dengan pembangunan “Sekolah Rakyat” dan sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Tujuannya jelas: memutus rantai kemiskinan antargenerasi dengan memberikan fasilitas pendidikan dan gizi yang setara.

Tantangan di Lapangan dan Harapan Rakyat

Meskipun ambisius, program ini tidak lepas dari tantangan. Dalam kunjungannya ke daerah-daerah, Presiden Prabowo seringkali didatangi oleh anak-anak yang berteriak menanyakan kapan giliran sekolah mereka mendapatkan jatah makan gratis. Menanggapi hal itu, Presiden meminta masyarakat untuk bersabar karena proses distribusi dan pemetaan logistik sedang dilakukan secara bertahap namun masif.

Implementasi program ini juga melibatkan peran serta masyarakat lokal dan UMKM dalam penyediaan bahan pangan, sehingga diharapkan dapat menggerakkan roda ekonomi di tingkat desa. Dengan menu yang diawasi ketat oleh ahli gizi, pemerintah memastikan setiap paket makanan mengandung karbohidrat, protein, dan vitamin yang cukup, termasuk pemberian susu sebagai pelengkap nutrisi.

Investasi Masa Depan

Pernyataan Presiden Prabowo mengenai anak sekolah yang tidak sarapan menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa kemajuan ekonomi tidak ada artinya jika pondasi manusianya rapuh. Program Makan Bergizi Gratis kini dipandang bukan hanya sebagai jaring pengaman sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat, cerdas, dan kompetitif di masa depan.