Tragedi Labuan Bajo Bangkai Kapal Ditemukan, Jasad Anak Pelatih Valencia Teridentifikasi

Tragedi Labuan Bajo: Bangkai Kapal Ditemukan, Jasad Anak Pelatih Valencia Teridentifikasi

KONEKSI MEDIA – Operasi pencarian korban kecelakaan laut yang menimpa keluarga pelatih sepak bola asal Spanyol, Martin Carreras Fernando, menemui titik terang yang memilukan. Memasuki hari kedua belas pencarian, tim SAR gabungan berhasil menemukan bangkai kapal motor (KM) Putri Sakinah yang tenggelam di kawasan Taman Nasional Komodo. Di dalam rongga bangkai kapal tersebut, petugas menemukan jenazah yang kini telah teridentifikasi sebagai salah satu putra dari pelatih tim wanita Valencia CF B tersebut.

Penemuan ini menjadi babak baru dalam tragedi yang menyita perhatian dunia olahraga internasional sejak akhir Desember 2025 lalu. Keberhasilan tim dalam menemukan lokasi bangkai kapal sekaligus jasad korban merupakan hasil kerja keras tim penyelam gabungan serta bantuan informasi dari nelayan setempat.

Penemuan Bangkai Kapal dan Evakuasi Korban

Kapal Pinisi KM Putri Sakinah sebelumnya dilaporkan tenggelam pada Jumat malam, 26 Desember 2025, akibat mengalami kerusakan mesin dan dihantam gelombang tinggi saat berlayar dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar. Sejak saat itu, keberadaan bangkai kapal sempat menjadi misteri karena kuatnya arus bawah laut di Selat Lintah.

Pada Selasa, 6 Januari 2026, bangkai kapal akhirnya ditemukan dalam posisi terdampar di sekitar perairan Pantai Pede, Pulau Komodo. Penemuan ini berawal dari laporan nelayan yang melihat objek besar di kedalaman air yang mirip dengan lambung kapal. Tim SAR yang bergerak menggunakan KN SAR Puntadewa 250 segera melakukan verifikasi dan menemukan jasad seorang anak laki-laki terjebak di dalam kabin kapal.

“Korban ditemukan di dalam bodi kapal dalam kondisi sudah meninggal dunia. Jarak penemuan bangkai kapal ini sekitar 7,48 mil laut dari titik awal dilaporkannya kecelakaan,” ujar Fathur Rahman, Kepala Kantor Basarnas Maumere.

Proses Identifikasi yang Emosional

Kondisi jenazah yang telah berada di dalam air selama belasan hari membuat proses identifikasi secara fisik atau sidik jari menjadi sangat sulit. Setelah dievakuasi ke RSUD Komodo dan diperiksa oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, identitas korban akhirnya berhasil dipastikan.

Korban dikonfirmasi sebagai anak laki-laki dari Martin Carreras yang berusia 10 tahun. Menurut keterangan pihak kepolisian, keluarga mengenali jasad tersebut melalui struktur atau bentuk giginya.

“Korban dipastikan berjenis kelamin laki-laki, WNA asal Spanyol, dan merupakan anak dari pelatih Valencia. Identitasnya diperkuat melalui rekam medis gigi yang dicocokkan oleh tim kedokteran Polri,” ungkap perwakilan otoritas keamanan di Labuan Bajo.

Sebelumnya, jasad Martin Carreras Fernando (44) sendiri telah ditemukan lebih dulu pada Minggu, 4 Januari 2026, di perairan Pulau Rinca. Ia teridentifikasi melalui benda-benda pribadi yang masih melekat, yakni cincin pernikahan dan jam tangan miliknya. Sementara itu, putri sulungnya yang berusia 12 tahun telah ditemukan beberapa hari setelah kejadian.

Tragedi Liburan Keluarga

Keluarga Martin Carreras Fernando berada di Labuan Bajo untuk menikmati libur Natal dan Tahun Baru. Kapal tersebut membawa total 11 orang, termasuk Martin, istrinya, dan empat anak mereka, serta kru kapal dan pemandu wisata.

Dalam kecelakaan tragis tersebut, istri Martin dan satu putri bungsunya yang berusia 7 tahun berhasil selamat setelah berpegangan pada pelampung dan dievakuasi oleh kapal nelayan yang melintas. Namun, Martin beserta tiga anak lainnya tersapu arus. Hingga berita ini diturunkan, satu putra Martin yang berusia 9 tahun masih dinyatakan hilang.

Klub Valencia CF telah menyampaikan duka cita mendalam melalui akun media sosial resmi mereka. Dunia sepak bola Spanyol, termasuk klub-klub besar seperti Real Madrid dan Barcelona, juga mengirimkan pesan solidaritas bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kelanjutan Operasi SAR

Meski bangkai kapal telah ditemukan dan tiga jenazah anggota keluarga telah teridentifikasi, operasi SAR belum ditutup. Fokus utama saat ini adalah mencari satu korban terakhir, yakni putra bungsu laki-laki Martin yang masih berusia 9 tahun.

Tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI AL, Polairud, dan penyelam profesional dari masyarakat lokal terus menyisir area sekitar penemuan bangkai kapal. Penggunaan teknologi multibeam echosounder dan sonar tetap dikerahkan untuk mendeteksi kemungkinan adanya korban lain yang mungkin terseret keluar dari bangkai kapal sebelum kapal tersebut karam sepenuhnya.

Tragedi ini menjadi pengingat keras akan pentingnya standar keamanan pelayaran di destinasi wisata premium seperti Labuan Bajo, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem di penghujung tahun.