Tren ‘Party Jamu’ di TikTok, DPR Dorong Anak Muda Ikut Pelatihan Pembuatan Jamu

Tren ‘Party Jamu’ di TikTok, DPR Dorong Anak Muda Ikut Pelatihan Pembuatan Jamu

KONEKSI MEDIA – Dalam beberapa minggu terakhir, media sosial terutama TikTok diramaikan oleh fenomena baru di kalangan generasi muda: “party jamu”. Istilah ini merujuk pada kebiasaan anak-anak muda nongkrong bareng sambil meminum jamu minuman tradisional berbasis rempah. Alih-alih memilih kopi, minuman kekinian, atau alkohol, banyak Gen Z seolah melakukan “revolusi minum”: mereka memilih jamu sebagai pilihan gaya hidup, hangout, dan detox alami.

Dalam sejumlah video viral, anak muda meminum jamu seperti beras kencur, kunyit asem, atau jamu rempah lainnya kadang sambil bercanda, sesekali tertawa, dan sebagian besar menikmati sensasi hangat, manis-asam atau pahit yang menurut mereka menenangkan.

Salah seorang pengguna Gen Z, Riris (25), mengatakan bahwa tren ini baginya adalah alternatif lebih sehat daripada minuman berenergi, soda, atau alkohol.

“Jamu itu minuman enak, sehat dari bahan alami dan tentu harganya terjangkau,” ujarnya.

Bagi banyak anak muda, “party jamu” juga menjadi bentuk apresiasi kembali terhadap budaya lokal sebuah cara untuk menghargai tradisi nenek moyang, sekaligus menunjukkan bahwa jamu tidak cuma urusan “ibu-ibu tua”, melainkan bisa juga menjadi bagian gaya hidup milenial.

Dampak Ekonomi dan Peluang bagi UMKM

Tren ini ternyata membawa dampak nyata tidak hanya bagi gaya hidup, tetapi juga bagi ekonomi mikro. Penjual jamu baik yang berjualan keliling, mangkal, maupun yang berjualan secara daring mulai merasakan dampak “bocoran” dari kegandrungan generasi muda.

Menurut laporan, beberapa penjual jamu menyebut bahwa dalam satu hingga dua pekan terakhir, pembelian dari kaum muda meningkat. Seorang penjual bernama Rina (36) misalnya, mengaku bahwa banyak pelanggan baru dari kalangan anak muda yang sebelumnya tidak pernah membeli jamu.

Penyesuaian tampilan, kemasan, bahkan penyajian jamu pun mulai terjadi agar lebih menarik bagi pasar muda misalnya penyajian seperti minuman kekinian, penutup botol menarik, penyajian “instagramable”, dan semacam itu.

Fenomena ini tentu membuka peluang besar bagi pelaku UMKM jamu untuk naik kelas tidak hanya sebagai minuman kesehatan rumahan, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup dan ekonomi kreatif.

Sejumlah kalangan melihat potensi besar: jamu bisa menjadi produk budaya dan ekonomi yang relevan bagi generasi muda, sekaligus mendukung pelestarian tradisi, pendapatan masyarakat, dan keberlanjutan rempah lokal.

DPR: Ayo Anak Muda Ikut Pelatihan Pembuatan Jamu

Menanggapi gelombang “party jamu”, anggota DPR ikut angkat bicara. Chusnunia Chalim, anggota Komisi VII DPR RI, menyambut positif tren ini. Menurutnya, tren minum jamu di kalangan Gen Z mencerminkan meningkatnya minat gaya hidup sehat. Dia menilai momentum ini bisa menjadi peluang besar terutama bagi UMKM dan ekraf (ekonomi kreatif).

Chusnunia juga menyarankan agar pihak-pihak terkait seperti Kementerian Pariwisata, Kemenparekraf, dan lembaga lainnya tangkap peluang ini secara serius. Mulai dari standarisasi jamu, inovasi penyajian (misalnya dalam bentuk jus jamu), hingga pemasaran yang lebih modern dan menarik bagi generasi muda.

Yang lebih menarik: ia mengusulkan agar digelar pelatihan pembuatan jamu khusus untuk anak muda. Selama ini, menurutnya, membuat jamu dianggap tugas “mbok” atau ibu-ibu tua padahal membuat jamu tidak memandang usia atau gender. Semua orang bisa mengambil peluang ini.

Usulan ini bukan tanpa dasar. Pelatihan jamu bagi masyarakat sudah pernah dilakukan bahkan ada inovasi modern, seperti membuat es krim jamu. Namun, segmentasinya masih sangat tradisional: kebanyakan diikuti oleh ibu-ibu atau warga kampung. Pelibatan generasi muda bisa membuka dimensi baru: jamu sebagai bagian gaya hidup modern, sekaligus melestarikan warisan budaya.

Potensi Wisata, Ekraf, dan Inovasi Jamu

DPR melalui wakilnya Lamhot Sinaga bahkan menyebut bahwa “party jamu” bisa dilihat sebagai peluang strategis. Ia menilai, gerakan ini tidak hanya tentang kesehatan atau gaya hidup, tetapi juga bisa menjadi bagian dari paket wisata. Bayangkan: wisata rempah, workshop pembuatan jamu, pasar rempah, festival jamu, hingga tur budaya minum jamu semua bisa menjadi daya tarik bagi turis domestik maupun mancanegara.

Dorongan ini sejalan dengan kebijakan dan semangat Kementerian Ekonomi Kreatif, yang sejak bulan-bulan sebelumnya mendorong regenerasi pelaku usaha jamu dan inovasi produk agar jamu tetap relevan di era modern. Inovasi jamu bahkan sudah menyentuh berbagai format: dari jamu bubuk, kemasan modern, hingga kreasi seperti es krim jamu.

Kalau pelatihan untuk anak muda terlaksana, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak lagi varian jamu kekinian mungkin jamu kemasan modern, jamu dengan rasa lebih mengakomodasi selera generasi muda, hingga jamu siap minum.