Site icon Koneksi Media

Trump Siapkan Serangan Besar ke Iran Bersama Israel Buntut Kerusuhan Massal

Trump Siapkan Serangan Besar ke Iran Bersama Israel Buntut Kerusuhan Massal

KONEKSI MEDIA – Situasi geopolitik di Timur Tengah berada di ambang konfrontasi besar setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran. Langkah ini merupakan respons langsung atas tindakan represif pemerintah Teheran dalam meredam gelombang protes nasional yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa administrasi Trump tidak hanya menyiapkan kekuatan mandiri, tetapi juga mengoordinasikan langkah-langkah strategis dengan sekutu utamanya, Israel.

Pemicu Utama: Gelombang Protes Kebebasan

Kerusuhan di Iran bermula pada akhir Desember 2025, dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial dan inflasi yang tak terkendali. Namun, demonstrasi dengan cepat berubah menjadi gerakan politik besar yang menuntut berakhirnya pemerintahan teokrasi. Hingga 11 Januari 2026, organisasi hak asasi manusia seperti HRANA melaporkan bahwa korban tewas telah mencapai lebih dari 500 jiwa, termasuk ratusan demonstran yang tewas akibat penggunaan peluru tajam oleh aparat keamanan Iran.

Presiden Trump, melalui platform media sosialnya, secara terbuka menyatakan dukungannya bagi para pengunjuk rasa.

“Iran sedang melihat KEBEBASAN, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!” tulis Trump.

Ia juga memperingatkan bahwa jika rezim Teheran terus membunuhi rakyatnya sendiri, AS akan melakukan “intervensi yang sangat keras.”

Rencana Serangan Besar dan Keterlibatan Israel

Menurut laporan dari The Wall Street Journal dan CNBC Indonesia, Trump dijadwalkan menerima pengarahan (briefing) khusus pada Selasa, 13 Januari 2026, mengenai opsi militer yang mencakup serangan udara terhadap fasilitas keamanan Iran dan situs-situs non-militer di Teheran yang digunakan untuk menekan demonstran.

Keterlibatan Israel menjadi elemen krusial dalam strategi ini. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan telah melakukan koordinasi intensif dengan Washington. Sumber internal menyebutkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) berada dalam status siaga tinggi. Israel diproyeksikan akan memberikan dukungan logistik, berbagi data intelijen real-time, dan kemungkinan melakukan serangan terhadap fasilitas rudal serta nuklir Iran jika konflik pecah secara terbuka.

Meskipun demikian, beberapa pejabat AS menekankan bahwa serangan darat (boots on the ground) tidak termasuk dalam rencana utama. Fokus serangan adalah “tindakan kinetik” yang bertujuan melumpuhkan kekuatan Garda Revolusi Iran (IRGC) tanpa harus memicu perang berlarut-larut.

Respons Keras dari Teheran

Iran menanggapi ancaman ini dengan peringatan yang tak kalah sengit. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa jika Amerika Serikat berani melancarkan serangan, maka seluruh pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah serta wilayah Israel akan menjadi “target sah” bagi militer Iran.

“Jangan main-main dengan api. Setiap serangan terhadap tanah kami akan dibalas dengan kehancuran bagi kepentingan Amerika dan Zionis di kawasan ini,” tegas Qalibaf dalam pidato di televisi negara pada Minggu (11/1/2026).

Selain itu, pemerintah Iran telah memutus akses internet nasional secara total untuk menghambat koordinasi demonstran dan menutupi skala kekerasan yang terjadi di lapangan.

Strategi Non-Militer: Starlink dan Siber

Selain opsi serangan fisik, Trump juga mempertimbangkan penggunaan senjata siber rahasia untuk melumpuhkan jaringan komunikasi militer Iran. Ada juga laporan yang menyebutkan bahwa Trump tengah berkomunikasi dengan Elon Musk untuk mengaktifkan layanan internet satelit Starlink secara penuh di wilayah Iran guna membantu rakyat Iran menembus blokade informasi pemerintah.

Langkah ini dianggap sebagai bagian dari kampanye “tekanan maksimum” (maximum pressure) versi baru yang diusung oleh kabinet Trump di periode keduanya, yang melibatkan tokoh-tokoh garis keras seperti Sekretaris Negara Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Dampak Regional dan Dunia

Dunia kini memantau dengan cemas. Jika serangan benar-benar terjadi, harga minyak dunia diprediksi akan melonjak tajam mengingat posisi strategis Iran di Selat Hormuz. Sementara itu, sekutu-sekutu AS lainnya di kawasan, seperti Qatar, dilaporkan mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri guna menghindari konfrontasi total yang dapat menghanguskan stabilitas Timur Tengah.

Exit mobile version